Jeyhun Aliyev, Dilara Hamit
ANKARA
Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Senin mengatakan Turki tidak akan lagi mentoleransi gangguan teroris di zona aman Idlib di Suriah barat laut atau peningkatan serangan yang melanggar perjanjian.
Dalam pidato yang disiarkan televisi setelah pertemuan kabinet di Istanbul, Erdogan mengatakan kelompok-kelompok teroris berusaha untuk mengeksploitasi fokus Turki pada pandemi Covid-19 untuk meningkatkan serangan di dalam perbatasan Turki dan di luarnya.
"Sikap ini saja sudah cukup untuk menunjukkan seberapa jauh kelompok teroris itu dari kemanusiaan," ujar dia.
Erdogan mengatakan Angkatan Bersenjata Turki mengejar dan melumpuhkan teroris tanpa henti, menambahkan bahwa operasinya melintasi perbatasan dan berlanjut tanpa gangguan.
"Kami memonitor setiap langkah anggota kelompok teroris yang beroperasi di wilayah luas di Irak utara dan Suriah," lanjut presiden.
Dia menekankan bahwa Turki segera melumpuhkan anggota kelompok teroris yang mencoba menyusup ke wilayah-wilayah yang dilindungi di Suriah.
Sejak 2016, Turki meluncurkan empat operasi antiteroris - Perisai Eufrat (2016), Ranting Zaitun (2018), Mata Air Perdamaian (2019), dan Perisai Musim Semi (2020) - di Suriah Utara untuk mencegah pembentukan koridor teror dan melindungi penduduk setempat.
"Kami mengundang negara-negara yang memiliki pengaruh di kawasan itu untuk mematuhi perjanjian permanen kami, untuk menjaga kelompok teroris di luar batas yang ditentukan, dan untuk mencegah serangan rezim," tambah Erdogan.
Erdogan menekankan bahwa sayangnya tidak ada negara yang sepenuhnya memenuhi janji dalam hal ini.
"Jika mereka yang mendukung kelompok teroris dan rezim tidak bisa mengendalikan mereka, Turki sendiri yang akan membuat mereka bertekuk lutut," tegas dia.
Idlib sejak lama digempur serangan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad san sekutunya
Sementara itu, Turki terus berupaya melindungi penduduk sipil dan membersihkan wilayah ini dari unsur-unsur teroris.
Libya
Presiden juga mengatakan Turki bertekad untuk terus mendukung pemerintah Libya yang sah untuk mengubah daerah itu menjadi wilayah perdamaian.
"Keamanan Libya dan kedamaian serta kesejahteraan rakyat Libya adalah kunci bagi stabilitas seluruh Afrika Utara dan Mediterania," ungkap Erdogan.
Dia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Turki untuk pemerintah yang sah sehingga pemberontak Khalifa Haftar kehilangan posisinya.
"Negara-negara yang memberinya dukungan keuangan dan senjata tanpa batas tidak akan cukup untuk menyelamatkan Haftar, yang juga menghadapi tentangan dari penduduk setempat di tanah yang dia tempati dengan setiap langkah yang diambilnya," tutur Erdogan."Semoga kita akan segera menerima kabar baik baru dari Libya," tambah dia.
Tentara Libya baru-baru ini berhasil memenangkan sejumlah pertempuran melawan milisi Haftar, yang didukung oleh Prancis, Rusia, UEA dan Mesir.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat persetujuan PBB dan internasional.
news_share_descriptionsubscription_contact


