Hayati Nupus
11 Mei 2018•Update: 12 Mei 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan bahwa aksi Indonesia Bela Al-Quds merupakan bagian dari komitmen bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Komitmen Indonesia itu, kata Anies, juga tertuang dalam konstitusi, yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
“Jarak Indonesia dan Palestina memang amat jauh, tapi hati dan pikiran kita amat dekat. Air mata mereka air mata kita, perjuangan mereka adalah perjuangan kita,” ujar Anies di hadapan puluhan ribu peserta aksi Indonesia Bela Al-Quds di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Jumat.
Anies juga menyatakan bahwa di lapangan Monumen Nasional ini pula pada 73 tahun lalu, untuk pertama kalinya seluruh masyarakat Indonesia berkumpul untuk mengirimkan pesan kepada dunia bahwa negara ini bebas dari penjajahan.
Hari ini, kata Anies, peristiwa itu berulang lagi, kali ini rakyat Indonesia berkumpul bersama untuk mengirimkan pesan pada dunia bahwa Indonesia yang sudah merdeka memperjuangkan kemerdekaan saudara di Palestina.
“Indonesia tidak pernah bergeming meski ada negara memilih untuk memindahkan Kedubesnya di Yerusalem, kita tetap konsisten kalau Yerusalem tetap milik warga Palestina,” ujar Anies, disambut sorak-sorai peserta aksi.
Anies juga mengatakan bahwa ibu-ibu di Palestina tak berhenti melahirkan pejuang. Mereka melahirkan mujahid sekaligus mengantarkan anaknya menjadi syahid membela negara.
“Kita tahu persis, perjuangan mereka tidak pernah mengalami kekalahan, perjuangan mereka tidak pernah mengalami kemunduran. Ini hanya soal waktu,” ujar dia.
Hari ini, puluhan ribu masyarakat Indonesia melakukan aksi demonstrasi untuk mengecam keputusan Presiden Donald Trump memindahkan kedutaan besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Aksi dimulai dengan salat Subuh dan berdoa bersama di Masjid Istiqlal, lalu massa berarak ke lapangan Monumen Nasional untuk menyampaikan orasi dan diakhiri dengan salat Jumat bersama.
Desember lalu, Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memindahkan kedutaannya ke Yerusalem - keputusan yang dikecam oleh negara-negara Arab dan Muslim.
Pada 21 Desember, Majelis Umum PBB - dalam sebuah gerakan yang disponsori oleh Turki - mengadopsi resolusi untuk menolak keputusan Trump. Resolusi itu didukung oleh 128 negara dan ditolak oleh sembilan negara, sementara 35 negara lain memilih abstain.