Rhany Chairunissa Rufinaldo
06 Agustus 2018•Update: 06 Agustus 2018
Hedaya al-Saedi dan Mohamed Majed
GAZA, Palestina
Gerakan perlawanan Hamas dan faksi Palestina berkumpul pada hari Minggu di Jalur Gaza yang diblokade untuk membahas situasi saat ini dan masalah-masalah di wilayah itu.
"Kami sekarang memiliki tujuan strategis, saya pikir faksi setuju dengan kami bahwa blokade harus berhenti dan bahwa sudah tiba waktunya bagi rakyat Palestina untuk mengambil hak dasar mereka untuk menjalani kehidupan yang layak," Husam Badran, seorang pemuka Hamas, kepada wartawan sebelum pertemuan tertutup tersebut.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Jihad Islam, Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina, Front Arab Palestina, dan Inisiatif Nasional Palestina.
Sementara gerakan Fatah menolak untuk ambil bagian.
Dia menekankan bahwa situasi di Gaza bukan milik Hamas saja dan inilah mengapa pertemuan dengan faksi Palestina lainnya dilakukan.
Badran mengatakan Hamas berkomitmen pada semua perjanjian rekonsiliasi yang ditandatangani dengan gerakan Fatah untuk mengakhiri keretakan nasional.
"Kita hidup dalam tahap yang sangat serius dan sensitif. Kami berbicara tentang 'kesepakatan abad ini' yang bertujuan untuk mengakhiri perjuangan Palestina," kata Badran, mengacu pada rencana jalur belakang yang kontroversial untuk mencapai penyelesaian perdamaian antara Israel dan orang-orang Palestina.
Pada hari Minggu, Fatah mengkritik keterlibatan Hamas dalam "perundingan memalukan" dengan Israel atas kesepakatan itu dengan mengatakannya bertujuan "untuk memisahkan Gaza dari tanah air dan mendirikan negara kecil yang akan menjadi kuburan bagi proyek nasional kita."
Sebagai tanggapan, Hamas menuduh Fatah memiliki "perilaku negatif" yang bertujuan untuk merusak upaya mencapai kesatuan nasional dan mengakhiri penderitaan warga Gaza.
Jalur Gaza sedang tertekuk di bawah blokade Israel selama satu dasawarsa yang membuat warganya kekurangan banyak komoditas penting termasuk makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan bahan bangunan.