Maria Elisa Hospita
15 Oktober 2018•Update: 15 Oktober 2018
Hale Turkes
ANKARA
Iran telah menemukan pelanggan baru untuk pasar minyaknya dalam upayanya untuk menghadapi sanksi dari Amerika Serikat (AS).
"Meskipun beberapa pelanggan telah berhenti membeli minyak dari Iran karena sanksi, kami berhasil mendapatkan pelanggan baru," ungkap Wakil Presiden Pertama Iran Eshaq Jahangiri saat konferensi pada Minggu.
Selain itu, Iran telah melakukan perundingan dengan pelanggan tetap untuk mencari solusi dalam menghadapi sanksi.
Jahangiri menambahkan bahwa Washington "kaget" dengan kenaikan harga minyak karena mereka berpikir Arab Saudi dapat mengisi kekosongan pasar minyak.
"Walaupun AS mengklaim bahwa mereka akan menjatuhkan ekspor minyak Iran sampai ke titik nol, rupanya mereka tidak bisa melakukannya, karena ada beberapa cara untuk melawan upaya AS," kata dia, seperti dilansir oleh kantor berita Shana.
"Kami telah menerima uang penjualan minyak dengan cara yang berbeda, sementara ekspor meningkat, dan orang cenderung berorientasi pada barang domestik," tambah wakil presiden.
Minyak mentah (brent oil) diperdagangkan pada USD81,42 per barel pada Senin 0654 GMT, sementara WTI pada USD71,97.
Kenaikan harga minyak didorong oleh sanksi AS yang menjerat Iran, yang juga mengancam jatuhnya pasokan minyak global.
Ketegangan yang meningkat antara Arab Saudi dan AS atas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, juga berdampak pada tren harga di pasar minyak.
Pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengganjar Riyadh dengan "hukuman berat" jika jurnalis kawakan itu terbukti dibunuh oleh pemerintah Saudi.
Kemudian, pada Minggu, Arab Saudi bertekad untuk membalas ancaman itu.