Ahmet Gurhan Kartal
09 Januari 2018•Update: 10 Januari 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Yerusalem seharusnya menjadi ibu kota bersama Israel dan Palestina, kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson, Senin, setelah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki.
"Saya kembali menyatakan komitmen Inggris untuk mendukung rakyat Palestina, solusi dua negara, dan perundingan damai. Sikap Inggris mengenai status Yerusalem tidak berubah. Status akhir Yerusalem harus ditetapkan dalam perundingan antara Israel dan Palestina, dan Yerusalem harus menjadi ibu kota bersama Israel-Palestina," tegas Johnson lewat pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri.
"Hubungan Inggris-Palestina adalah hubungan yang kuat dan telah berlangsung sejak lama. Suatu kehormatan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki untuk membahas keinginan kami bersama untuk meningkatkan hubungan kedua negara," tambah Johnson.
Perdana Menteri Inggris Theresa May telah menanggapi keputusan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota resmi Israel.
"Kami ingin menyaksikan perundingan antara Israel dan Palestina. Kami percaya bahwa perundingan harus didasarkan pada solusi dua negara, yakni Palestina yang hidup dan berdaulat, serta Israel yang aman tenteram," kata May di hadapan anggota parlemen di House of Commons.
Yerusalem masih menjadi poros konflik Timur Tengah, karena orang-orang Palestina mengharapkan Yerusalem Timur - yang diduduki Israel sejak 1967 - pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibu kota Palestina merdeka.
Pada 6 Desember, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, meski pada akhirnya dikecam dunia.