Maria Elisa Hospita
13 Februari 2018•Update: 14 Februari 2018
Said Amouri dan Michael Hernandez
YERUSALEM
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin mengungkapkan bahwa dirinya menjalin komunikasi dengan administrasi Amerika Serikat (AS) untuk memberlakukan "kedaulatan Israel" di daerah permukiman Tepi Barat yang diduduki.
Menurut koran Yediot Aharonot, hal itu disampaikan saat pertemuan antara Netanyahu dan anggota partai Likud di gedung Knesset (parlemen), di Yerusalem.
Netanyahu menekankan bahwa dia akan terus menjalin komunikasi dengan pejabat AS mengenai kedaulatan di Tepi Barat.
Sementara itu, Gedung Putih justru membantah keras bahwa Washington dan Tel Aviv telah mendisikusikan soal rencana aneksasi Tepi Barat.
"Amerika Serikat dan Israel tidak pernah membahas rencana semacam itu, dan fokus Presiden saat ini masih sesuai dengan inisiatif perdamaian Israel-Palestina," jelas juru bicara Josh Raffel kepada Anadolu Agency.
Bulan lalu, anggota partai Likud mengajukan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) ke Knesset untuk "mencaplok Tepi Barat", namun hingga saat ini belum dibahas lebih lanjut atau dilakukan pemungutan suara.
Akhir tahun lalu, Komite Likud Pusat menyetujui sebuah RUU yang akan mendukung kedaulatan Israel atas seluruh permukiman Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem.
Sejak 6 Desember, ketika Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota dan memindahkan kedutaan besar AS di Tel Aviv ke Yerusalem, aktivitas Israel di Knesset untuk melawan orang-orang Palestina telah meningkat pesat.
Hingga saat ini, wilayah Palestina masih diliputi ketegangan. Keputusan tersebut memicu kecaman dan sejumlah aksi protes di Palestina yang berujung bentrokan, hingga menewaskan sedikitnya 25 warga Palestina.
Permukiman yang dibangun Israel di Tepi Barat dihuni sekitar setengah juta jiwa.