Hayati Nupus
13 Juli 2019•Update: 14 Juli 2019
ANKARA
China akan membalas perusahaan-perusahaan AS atas penjualan senjata ke Taiwan, demi melindungi kepentingan nasional, ujar juru bicara China pada Jumat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengkonfirmasi rencana penjatuhan sanksi itu pada Jumat sebagai tanggapan atas penjualan senjata Washington secara besar-besaran Senin lalu.
Departemen Luar Negeri AS menyetujui kesepakatan senilai USD2,2 miliar itu dengan Taiwan.
Kebijakan itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan norma-norma dasar yang mengatur hubungan internasional, kata Geng.
Dia juga menambahkan bahwa itu sekaligus pelanggaran atas kebijakan One-China.
“Itu merusak kedaulatan dan keamanan nasional China," kata Geng.
"Untuk melindungi kepentingan nasional, China akan menjatuhkan sanksi pada perusahaan AS yang terlibat penjualan senjata yang disebutkan di atas ke Taiwan," tambah dia.
China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, seiring dengan kebijakan One China.
Pada 1949, para pemimpin nasionalis China melarikan diri ke Taiwan demi membangun apa yang mereka sebut "nasionalis Cina", ketika Mao Zedong berkuasa.
China tak menerima kemerdekaan Taiwan, dan sejak itu menganggap pulau tersebut adalah provinsi yang memisahkan diri.
Pada 1979, AS mengakui Republik Rakyat China sebagai “otoritas sah” dengan mengadopsi kebijakan “One-China”.
Namun AS mempertahankan hubungan tak resmi dengan Taiwan. Termasuk menjual senjata bernilai miliaran dolar setiap tahun ke negara pulau itu.