Rhany Chairunissa Rufinaldo
31 Agustus 2018•Update: 01 September 2018
Sergio Garcia
BOGOTA, Kolombia
Pusat Kenangan Bersejarah Nasional (NCHM) Kolombia menguraikan dalam laporannya bahwa perang puluhan tahun di negara itu menyebabkan lebih banyak orang hilang dibanding dengan kediktatoran di negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina, Chili, dan Uruguay.
“Kolombia memiliki lebih banyak orang hilang daripada korban kediktatoran selama tahun-tahun di Amerika Selatan. Jumlah orang yang hilang di Kolombia dapat mengisi dua stadion sepak bola,” kata organisasi yang didedikasikan untuk melestarikan kenangan konflik bersenjata yang menewaskan ratusan ribu korban.
Saat peringatan Hari Korban Penghilangan Paksa Internasional pada Kamis, NCHM mengumumkan bahwa konflik bersenjata di Kolombia menyebabkan 80.514 orang hilang antara tahun 1958 hingga 2018.
Laporan itu mengatakan 63,6 persen penghilangan paksa terjadi di 135 dari 1.122 kota madya di negara itu.
Organisasi itu menjelaskan bahwa 79.288 orang hilang adalah warga sipil, sementara 1.220 orang adalah mantan kombatan. Mereka juga mengatakan tidak memiliki informasi tentang enam kasus lainnya.
Kelompok paramiliter, kelompok gerilya dan kelompok-kelompok bersenjata yang dibentuk setelah pembubaran massal, serta para aktor negara adalah penyebab utama penghilangan paksa ini, menurut laporan itu.
NCHM menyoroti bahwa setiap penghilangan menyebabkan “luka” bagi masyarakat negara itu dan bahwa angka-angka tersebut hanya mencerminkan sebagian kecil dari rasa sakit yang dialami oleh ribuan keluarga di Kolombia.
"Penghilangan paksa disertai dengan sejumlah peristiwa yang memperbesar rasa sakit dan horor, ketidakpedulian masyarakat terhadap kejadian itu menjadi salah satunya."
Organisasi itu mengatakan sebagai cara untuk mengingat orang-orang yang hilang di negara itu, diluncurkanlah program “Hutan Damai”, yang akan menanam pohon untuk masing-masing dari mereka.
'Hutan damai' pertama ditanam di Cagar Alam Thomas van der Hammen di ibu kota negara itu, Bogotá, di mana pepohonan yang ditanam dikelilingi oleh jalan dalam bentuk garis peta Kolombia.
“Beberapa pohon di sana mewakili orang-orang hilang di Puerto Torres, yang terletak di Departemen Caqueta, di mana 36 orang disiksa, dibunuh dan dihilangkan antara 2001 hingga 2002. Pada 2018, hanya 12 orang hilang yang telah teridentifikasi," menurut NCHM .
Kolombia menciptakan Unit Pencarian Orang-Orang yang Dianggap Hilang (UBPD) setelah kesepakatan damai tercapai antara pemerintah dan gerilyawan FARC. Anggota gerilya yang dimobilisasi berjanji untuk memberi kompensasi kepada keluarga korban dari penghilangan ini.
"Penghilangan paksa yang telah melalui konflik panjang ini telah menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan bagi ribuan keluarga yang tidak tahu di mana orang-orang yang mereka cintai berada," Luz Marina Monzon, direktur UBPD, mengatakan dalam sebuah siaran pers.
Monzon membuat permohonan kepada masyarakat Kolombia untuk "mendukung, membantu, dan berkontribusi" dalam proses pencarian semua orang yang masih hilang.
*Ahmed Fawzi Mostefai berkontribusi pada berita ini.