Nani Afrida
28 September 2018•Update: 28 September 2018
Barry Ellsworth
TRENTON, Kanada
Parlemen Kanada memilih untuk mencabut kewarganegaraan kehormatan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, Kamis.
Langkah ini mengikuti usulan Kanada baru-baru ini untuk yang menunjuk kejahatan militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya sebagai genosida dan mendukung misi PBB untuk memetakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh militer.
Dalam laporannya, badan pengungsi UNHCR mengatakan hampir 170.000 orang kemungkinan meninggalkan Myanmar pada tahun 2012 saja.
Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar, menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA) Kanada.
Dalam laporan baru-baru ini berjudul "Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tidak Terkira", OIDA meningkatkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962 (± 881) dari angka yang dikeluarkan pihak Doctors without Borders yaitu 9.400 jiwa.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar.
Lebih dari 115.000 rumah Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.
Kanada hanya memberikan segelintir kewarganegaraan kehormatan dalam sejarahnya yaitu hanya untuk 6 orang, termasuk Nelson Mandela, Dalai Lama, dan Malala Yousafzai.
Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, menerima kewarganegaraan kehormatan Kanada pada tahun 2007.
Tapi diamnya Suu Kyi saat minoritas Rohingya dibantai telah memprovokasi Kanada untuk mengambil tindakan.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, yang hadir ketika keputusan itu diambil, mengatakan Rabu "Parlemen memberinya kewarganegaraan kehormatan" dan tentu saja mereka dapat mencabutnya.