Pizaro Gozali İdrus
16 Mei 2019•Update: 17 Mei 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Sekitar seratus warga Arakan berdemonstrasi di luar Kedutaan Besar Myanmar di Washington untuk memprotes pembunuhan terhadap warga sipil Arakan oleh militer Myanmar, lansir The Irrawady.
Demonstrasi ini dilakukan oleh Arakan American Community (AAC) dan diikuti oleh pengunjuk rasa dari Kachin dan Shan.
Para peserta memegang spanduk dengan slogan-slogan berbahasa Inggris bertuliskan “Hentikan pembunuhan warga sipil", "Hentikan penjualan senjata ke Burma" dan "Keadilan untuk Arakan."
Wakil ketua AAC Ko Thein Tun Zan mengatakan warga sipil terus-menerus menjadi sasaran kekerasan di Rakhine.
Tentara, kata Ko Thein Tun Zan, juga secara konsisten menyebarkan informasi palsu kepada masyarakat dan komunitas internasional.
AAC mendesak pemerintah membentuk komisi penyelidikan independen untuk menyelidiki kematian tiga dari 27 tahanan di Mrauk-U, serta pembunuhan enam dari 275 tahanan dari Kyauk Tan saat interogasi.
AAC mengatakan pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil di Rakhine sama dengan kejahatan perang.
Militer baru-baru ini membentuk komisi yang terdiri atas para jenderal untuk menyelidiki penembakan di desa Kyauk Tan, yang menewaskan sedikitnya enam dan melukai para penduduk desa pada awal Mei 2019.
Namun, Ko Thein Tun Zan meyakini panel itu hanyalah upaya untuk melindungi personil militer daripada memberikan keadilan bagi masyarakat Arakan.
“Kami ingin mendesak PBB untuk terus memantau kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Myanmar di Rakhine utara,” kata dia.
Di tengah meningkatnya bentrokan bersenjata antara Angkatan Darat Myanmar dan pemberontak Arakan Army di utara Rakhine, Asisten Sekretaris Jenderal PBB Ursula Muller telah berada di Myanmar sejak Kamis lalu.
Dia melakukan perjalanan ke negara bagian Kachin dan Shan serta Rakhine selama akhir pekan.
“Saya sangat prihatin dengan pertempuran terbaru di Rakhine dan Negara Bagian Chin yang telah menggusur lebih dari 30.000 orang dalam 6 bulan terakhir,” terang dia dalam Twitter-nya.
“Warga sipil sangat membutuhkan perlindungan dan bantuan,” kata dia.
Hampir 10.000 orang, sebagian besar beragama Buddha Rakhine, melarikan diri dari rumah sejak militer melancarkan serangan.
Arakan Army sebelumnya berperang melawan pasukan pemerintah di negara bagian Kachin utara dan negara bagian Shan di timur laut.
Gabungan LSM internasional mendesak Myanmar memberikan akses kemanusiaan untuk membantu warga sipil di Rakhine