Muhammad Nazarudin Latief
15 November 2019•Update: 16 November 2019
JAKARTA
Kematian pemimpin militan Malaysia Akel Zainal dan Mohd Rafi Udin akan mengurangi intensitas rekrutmen untuk Daesh atau yang sering disebut ISIS namun tidak bisa menghilangkannya, ujar seorang pakar terorisme.
Ahmad El-Muhammady, dosen ilmu politik di International Islamic University of Malaysia, mengatakan kelompok teror akan terus rekrutmen warga Malaysia tanpa terdeteksi.
“Kematiannya tentu akan berdampak pada pejuang Daesh di Malaysia. Kematian dapat mengurangi intensitas rekrutmen, itu tidak akan sepenuhnya menghilangkannya, ”ujar dia seperti dilansir Malaymail, Jumat.
Daesh menurut Ahmad tidak lagi mempunyai sosok sentral dari Malaysia di Suriah.
"Namun, beberapa orang masih memiliki minat dalam mengembangkan kelompok teror," kata dia.
Ahmad mengingatkan bahwa meskipun kelompok teror itu memasuki masa hibernasi, mereka berpotensi pulih kembali dalam waktu dekat.
"Mereka mungkin memulai memiliki sel-sel yang lebih kecil serta lebih lambat melakukan indoktrinasi ideologi dan menyebarkan ajaran mereka," kata dia.
Akel, yang nama aslinya adalah Wan Mohd Aquil Wan Zainal Abidin, terbunuh bersama istri dan dua anaknya ketika serangan udara menghantam rumahnya di Baghouz, Suriah, pada Maret.
Mohd Rafi Udin, yang juga dikenal sebagai Abu Awn Al-Malizi, tewas dalam serangan udara pada Januari.
Wakil Kepala Divisi Pencegahan Terorisme Bukit Aman (E8) Datuk Ayob Khan mengatakan bahwa intelijen menunjukkan bahwa Akel dikenal merekrut orang Malaysia serta mengeluarkan perintah untuk sel-sel teror di negara itu.
Perintah terakhir Akel adalah penyerangan sebuah bangunan Freemanson di pusat Johor Baru.
Serangan itu digagalkan oleh E8, dan seorang warga Singapura ditangkap.
Akel, yang bergabung dengan Daesh di Suriah sejak 2014, menjadi pemimpin de facto militan Malaysia ketika Muhammad Wanndy Mohamed Jedi terbunuh.
Sementara Mohd Rafi ditampilkan dalam video Daesh pada 2016 yang menyerukan serangan terhadap pemerintah sekuler.