Muhammad Nazarudin Latief
22 Juni 2019•Update: 22 Juni 2019
Lokman Ilhan
BOGOTA, Kolombia
Pejabat tinggi hak asasi manusia PBB bertemu pada Jumat dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, membahas krisis politik dan kemanusiaan negara itu.
Maduro berterima kasih kepada Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) Michelle Bachelet atas kunjungannya pada konferensi pers setelah pertemuan.
Dia menyatakan keinginannya untuk berkontribusi membuka halaman baru antara Venezuela dan OHCHR.
Dia juga berjanji untuk menuntut siapa pun yang melanggar hak asasi manusia di Venezuela.
Bachelet tiba di negara itu pada Rabu atas undangan Maduro.
Dia bertemu dengan para pemimpin pemerintah dan oposisi selama kunjungannya selama tiga hari.
Ekonomi Venezuela mengalami penurunan tajam menyusul penurunan harga minyak mentah global, ekspor utama negara itu.
Negara ini diguncang oleh protes sejak 10 Januari, ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang diboikot oleh oposisi.
Ketegangan meningkat ketika pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden pada 23 Januari, sebuah langkah yang didukung oleh AS dan banyak negara Eropa dan Amerika Latin.
Rusia, Turki, Cina, Iran, Bolivia, dan Meksiko mendukung Maduro.
Hampir 5.000 orang meninggalkan Venezuela setiap hari karena "ketidakstabilan dan ketidakpastian" di tengah krisis kepresidenan dan ekonomi, dan 3 juta rakyat Venezuela telah meninggalkan negara itu sejak 2015, menurut Badan Pengungsi PBB.
Ditulis oleh Zehra Nur Duz