Venezuela berhenti menggunakan mata uang dolar AS (USD) untuk aktivitas perdagangan minyak sebagai respon sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS, lapor media internasional pada Jumat.
Menyusul penjatuhan sanski dari Washington, negara tersebut mulai melaporkan harga minyak dengan mata uang Tiongkok yuan (CNY), berlawanan dengan kecenderungan dunia internasional yang menuliskan harga minyak dengan USD.
Menurut portal berita Today Venezuela News, kementerian minyak bumi Venezuela mencantumkan harga per barel pada penghujung hari sebesar 306,26 yuan pada situsnya, setara dengan USD 46,70, naik dari 300,91 yuan pada pekan sebelumnya.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan pada awal September negaranya akan membebaskan diri dari AS dengan menggunakan yuan sebagai mata uang perdagangan minyak.
Dia juga mengatakan negara itu akan menerapkan sistem pembayaran internasional baru dan menggunakan sejumlah mata uang asing untuk membebaskan Venezuela terhadap ketergantungan pada dolar AS.
Pada Agustus, Washington menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Venezuela setelah Maduro membentuk majelis konstituante baru dengan wewenang menulis ulang Konstitusi dan membubarkan institusi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia tidak menutup kemungkinan "tindakan militer" di Venezuela untuk mengakhiri krisis ekonomi dan politik disana yang berimbas pada kelangkaan makanan dan obat-obatan serta memaksa pemerintah membatalkan program-program sosialis.
Krisis di Venezuela menyebabkan protes-protes anti-pemerintah yang memakan hingga 120 korban dari April hingga Juli.
Pada 25 Agustus, AS memberikan sanksi baru pada pemerintahan Venezuela, melarang AS melakukan aktivitas perdagangan dengan perusahaan minyak bumi milik negara PDVSA.
Keputusan itu diumumkan beberapa jam seteah Maduro mengangkat pimpinan perusahaan itu menjadi menteri minyak bumi baru Venezuela.