Maria Elisa Hospita
06 Oktober 2020•Update: 06 Oktober 2020
Nazir Aliyev Tayfur
BISHKEK, Kyrgyzstan
Komisi Pemilihan Umum Kyrgyzstan pada Selasa mengumumkan akan membatalkan hasil pemilihan parlemen setelah gelombang protes meletus di negara itu.
"Hasil pemilihan parlemen yang berlangsung pada 4 Oktober dinyatakan tidak sah," kata komisi tersebut dalam sebuah pernyataan.
Keputusan itu diambil tak lama setelah Presiden Sooronbay Jeenbekov meminta semua partai politik untuk mematuhi aturan hukum.
Menurut Jeenbekov, dia telah meminta Komisi Pemilihan Umum Pusat untuk menyelidiki pelanggaran secara menyeluruh dan membatalkan hasil pemilihan jika perlu.
Sebelumnya, pada Senin, Badan Pemilihan Umum Kyrgyzstan mengumumkan hasil resmi pertama dari pemilihan parlemen yang digelar pada Minggu untuk memilih 120 anggota parlemen baru.
Berdasarkan hasil awal, jumlah pemilih mencapai 55 persen dan empat dari 16 partai politik melewati ambang batas 7 persen untuk masuk parlemen, di antaranya Partai Birimdik (Unity), Partai Mekenim Kyrgyzstan (Homeland Kyrgyzstan), Partai Kyrgyzstan, dan Partai Butun Kyrgyztan.
Pendukung 12 partai politik yang gagal melebihi ambang batas 7 persen yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum berunjuk rasa di Ala-Too Square di Bishkek, menuntut agar hasil pemilu dibatalkan.
Polisi anti huru hara pun menggunakan gas air mata, meriam air, dan granat kejut untuk membubarkan 5.000 demonstran.
Para demonstran mengendarai truk untuk menduduki istana presiden dan interior gedung parlemen.
Satu orang tewas di tengah aksi protes yang sedang berlangsung, sedangkan hampir 600 orang dilaporkan luka-luka.
*Merve Aydogan turut melaporkan dari Ankara