Safvan Allahverdi
06 Januari 2018•Update: 07 Januari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
RIbuan orang berdemonstrasi di dalam Stasiun Terminal Grand Central New York, Amerika Serikat, Jumat waktu setempat, mendesak pembebasan aktivis Palestina berusia 16 tahun Ahed al- Tamimi yang ditahan tentara Israel
Para demonstran membawa papan bertuliskan “Bebaskan Ahed Tamimi sekarang”, “Amerika Serikat harus berhenti membantu Israel” dan “Warga Palestina yang ditahan harus dibebaskan”.
Di dalam rilis pers yang dibagikan dalam aksi demonstrasi, Israel dituduh menahan Ahed secara ilegal serta keluarganya telah ditembak oleh tentara Israel. Aksi itu berakhir tanpa ada insiden.
Ahed dan ibunya ditahan Tentara Israel saat adanya penyerangan di wilayah Tepi Barat Israel dua pekan lalu. Ahed dikenal karena sikapnya yang berani untuk membebaskan Palestina.
Video dan foto Ahed yang berani melawan dan menampar tentara Israel viral dalam beberapa pekan belakangan. Remaja perempuan itu dan ibunya diperintahkan untuk ditahan selama 8 hari oleh Pengadilan Ofer pada Senin lalu, yang terletak di dekat Kota Tepi Barat tidak jauh dari Ramallah.
Pengadilan menyatakan Ahed telah melakukan 5 aksi penyerangan di antaranya melempar batu kepada tentara Israel dan melakukan kekerasan.
Ahed juga dituduh melawan dan menggangu kerja tentara Israel, berpartisipasi untuk melakukan pemberontakan serta mengajak warga lainnya untuk mengikuti aksi itu. Dan Ibunya, Nariman, dituduh melakukan hal yang sama dan mengajak orang lain untuk terlibat lewat akun Facebooknya.
“Alasan ditambahnya masa tahanan akan diputuskan setelah diinterogasi,” ujar pengadilan.
Sementara itu keponakan Ahed bernama Nour dibebaskan setelah ditahan selama 48 jam.
Video pada 15 Desember lalu menunjukkan adanya aksi konfrontasi antara Tentara Israel di wilayah Tepi Barat yakni Desa Nabi Saleh. Dalam video itu menunjukkan Ahed dan Nour menendang dan menampar dua Tentara Israel.
Pada 19 Desember lalu, tentara Israel menahan Ahed di Desa Nabil Saleh. Ibu dan keponakannya juga ikut ditahan.
Ini bukanlah sikap berani Ahed yang pertama kali dilakukannya terhadap Tentara Israel. Pada 2012 lalu, dia menerima penghargaan Hanzala Courage Award dari Distrik Basakksehir Municipality di Istanbul Turki karena keberaniaannya menentang tentara Israel yang menangkap saudaranya.
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan saat itu bertemu secara personal dan mengungkapkan kekagumannya.
Pada 6 Desember lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, hal ini menyebabkan aksi protes dari negara-negara Arab dan dunia muslim. Selain itu pernyataan Donald Trump juga menyebabkan adanya aksi protes di wilayah Palestina.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat 15 warga Palestina tewas dan ribuan orang terluka akibat aksi kekerasan yang dilakukan pasukan pengamanan Israel di wilayah Tepi Barat, Yerusalem Timur dan wilayah Gaza.