Rhany Chairunissa Rufinaldo
13 April 2020•Update: 14 April 2020
Karim El-Bar
LONDON
Otoritas kesehatan Inggris pada Minggu mengumumkan bahwa jumlah kematian akibat virus korona (Covid-19) di seluruh Inggris meningkat 737 dalam 24 jam, sehingga jumlah keseluruhan lebih dari 10.000 kematian.
Departemen Kesehatan melaporkan 282.374 orang telah diuji dan 84.279 orang didiagnosis positif terpapar Covid-19.
“Pada jam 5 sore tanggal 11 April, dari semua yang dirawat di rumah sakit di Inggris yang dites positif virus korona, 10.612 meninggal dengan menyedihkan,” ujar departemen itu.
Sir Jeremy Farrar, direktur Wellcome Trust, badan amal penelitian biomedis dan anggota Kelompok Penasehat Ilmiah pemerintah untuk Keadaan Darurat, mengatakan kepada BBC bahwa angka-angka di Inggris terus meningkat,
"Inggris kemungkinan besar akan menjadi salah satu dari yang terburuk, atau bahkan negara yang terkena dampak terburuk di Eropa," tambah dia.
Pada konferensi pers harian, Menteri Kesehatan Matt Hancock mengumumkan bahwa aplikasi Layanan Kesehatan Nasional baru akan dapat memberi tahu pengguna jika mereka berada di dekat seseorang yang terinfeksi Covid-19.
Perdana Menteri pulih
Sebelumnya pada hari yang sama, Perdana Menteri Boris Johnson dipulangkan dari rumah sakit setelah seminggu dirawat karena virus korona, termasuk tiga malam dalam perawatan intensif.
Bersama sebuah video yang diposting di Twitter pada Minggu, dia menulis: “Sulit untuk menemukan kata-kata untuk mengungkapkan utang saya kepada NHS karena telah menyelamatkan hidup saya.
“Upaya jutaan orang di negara ini untuk tinggal di rumah layak dilakukan. Bersama-sama kita akan mengatasi tantangan ini, karena kita telah mengatasi begitu banyak tantangan di masa lalu," tambah dia.
Tunangannya, Carrie Symonds, juga menyatakan ucapan terimakasihnya melalui Twitter.
“Saya tidak bisa cukup berterima kasih kepada NHS. Staf di Rumah Sakit St Thomas luar biasa. Saya tidak akan pernah bisa membalas Anda dan saya tidak akan pernah berhenti mengucapkan terima kasih," cuit dia.
Parlemen kembali bekerja pada 21 April
Parlemen ditutup untuk reses tahunan Paskah, tetapi tahun ini libur dimulai lebih cepat karena wabah Covid-19.
Sudah muncul seruan dari partai-partai oposisi untuk penarikan kembali darurat parlemen, tetapi seorang juru bicara untuk pemimpin Dewan Perwakilan Rakyat, Jacob Rees-Mogg, mengkonfirmasi pada Minggu bahwa parlemen akan mengadakan sidang kembali pada 21 April seperti yang semula disetujui oleh para anggota parlemen sebelum reses Paskah. .
Rees-Mogg mengatakan parlemen akan kembali pada 21 April untuk memenuhi fungsi konstitusionalnya yang penting dalam melakukan pengawasan, mengesahkan pengeluaran dan membuat undang-undang.
"Dalam masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, solusi teknologi telah diterapkan untuk komite terpilih dan opsi sedang dipersiapkan untuk pembicara, pemerintah dan pihak lain untuk dipertimbangkan minggu depan," ungkap dia.
Sir Keir Starmer, yang baru-baru ini terpilih sebagai pemimpin partai oposisi utama Partai Buruh, menyambut baik penggunaan teknologi dalam membentuk kembali parlemen, dengan mengatakan bahwa dalam krisis seperti ini sangat penting bagi parlemen untuk duduk sehingga keputusan bisa diteliti dengan cermat.
Sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, pada Desember lalu, virus korona telah menyebar ke setidaknya 185 negara dan wilayah.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University Amerika Serikat, lebih dari 1,8 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia sejak Desember lalu, dengan angka kematian lebih dari 114.000 dan lebih dari 431.000 dinyatakan sembuh.