Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Maret 2021•Update: 04 Maret 2021
Riya Shartouni
BEIRUT, Lebanon
Puluhan aksi protes anti-pemerintah meletus di seluruh wilayah Lebanon pada Rabu ketika mata uangnya mencapai rekor terendah baru, memperburuk kondisi kehidupan yang sudah mengenaskan.
Di Ibu Kota Beirut, sejumlah pengunjuk rasa membakar ban untuk memblokir jalan utama dekat Masjid Mohammad Al-Amin di pusat kota Beirut, sementara pengunjuk rasa lainnya menutup jalan menuju bandara Beirut, yang kemudian dibuka kembali setelah satu jam.
Sebuah situs lalu lintas resmi juga melaporkan bahwa pengunjuk rasa menutup Lapangan Abdul Hamid Karami dan jalan-jalan lain di Tripoli, Lebanon utara dan Lapangan Zahle di Provinsi Beqaa, Lebanon tengah.
Sebelumnya pada Rabu, Presiden Michel Aoun meminta gubernur Bank Sentral Lebanon untuk menyelidiki penyebab rekor baru devaluasi mata uang negara dan untuk mengungkap praktik mencurigakan di balik jatuhnya pound.
Pada Selasa, pound Lebanon turun menjadi 10.000 terhadap dolar AS, memberikan tekanan lebih lanjut pada ekonomi dan kondisi kehidupan yang sudah memburuk.
Kejatuhan ekonomi terjadi di tengah kegagalan berkelanjutan untuk membentuk pemerintahan baru sejak pemerintahan Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri enam hari setelah ledakan dahsyat mengguncang pelabuhan Beirut yang menewaskan lebih dari 200 orang Agustus lalu.
Mantan Perdana Menteri Saad Hariri ditunjuk untuk membentuk pemerintahan baru tetapi dia masih berselisih paham dengan Presiden Aoun mengenai hal-hal yang terkait dengan urusan tersebut.
*Ahmed Asmar berkontribusi pada berita ini dari Ankara