Rhany Chairunissa Rufinaldo
23 Juli 2020•Update: 24 Juli 2020
Jeyhun Aliyev
ANKARA
Badan-badan PBB pada Rabu memperingatkan bahwa jumlah populasi yang menghadapi kerawanan pangan di Yaman selatan bisa meningkat dari 2 juta menjadi 3,2 juta dalam enam bulan.
Laporan terbaru oleh Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), UNICEF dan Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan kekurangan pangan akan meningkat tajam karena sejumlah faktor, termasuk kondisi ekonomi yang buruk, konflik, banjir bandang, hama belalang dan pandemi Covid-19.
Analisis yang dilakukan di 133 distrik di Yaman selatan meramalkan adanya peningkatan yang mengkhawatirkan dalam jumlah orang yang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut.
"Rakyat Yaman telah melalui banyak hal dan ulet. Tetapi mereka sekarang menghadapi terlalu banyak kesulitan dan ancaman sekaligus, dari COVID-19 hingga invasi Belalang Gurun. Petani kecil dan keluarga yang bergantung pada pertanian untuk mata pencaharian saat ini membutuhkan dukungan kita lebih dari sebelumnya,” kata perwakilan FAO di Yaman Hussein Gadain.
Menurut laporan itu, kekurangan pangan berkurang sampai batas tertentu pada 2019 berkat peningkatan bantuan kemanusiaan besar-besaran.
“Kita harus bertindak sekarang. Pada 2019, berkat peningkatan besar-besaran, WFP dan para mitranya mampu membalikkan kemunduran di daerah-daerah Yaman yang paling parah dilanda. Tanda-tanda peringatan telah kembali dan dengan pandemi Covid-19, kondisi bisa menjadi jauh lebih buruk jika tindakan kemanusiaan ditunda,” kata direktur negara WFP di Yaman, Laurent Bukera.
Laporan tersebut mengusulkan rekomendasi untuk tindakan segera, seperti memastikan kelanjutan bantuan makanan, merehabilitasi infrastruktur air lokal yang rusak akibat banjir, mendukung petani, mempromosikan praktik nutrisi yang baik dan memperkuat peringatan dini dan sistem pemantauan ketahanan pangan umum.
Yaman telah dirundung konflik sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara, termasuk Sanaa.
Puluhan ribu warga Yaman, termasuk warga sipil, diyakini terbunuh dalam konflik, yang menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia karena jutaan orang menderita kelaparan.