Maria Elisa Hospita
11 Desember 2018•Update: 11 Desember 2018
Ovunc Kutlu
ANKARA
Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) mengumumkan force majeure di ladang minyak terbesarnya, yang diperkirakan akan memangkas produksi minyaknya hingga lebih dari 300.000 barel per hari (bpd).
"Force majeure diberlakukan di Akakus yang mengoperasikan ladang minyak Sharara pada Minggu, 9 Desember 2018," kata perusahaan itu lewat sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin.
"NOC memprioritaskan keselamatan pekerja dan saat ini sedang meninjau prosedur evakuasi setelah adanya ancaman terhadap kesejahteraan mereka, dan penutupan paksa ladang minyak oleh milisi bersenjata," tambah NOC.
Menurut perusahaan itu, penutupan ladang minyak Sharara akan menyebabkan hilangnya produksi hingga 315.000 barel per hari, dengan kerugian tambahan 73.000 bpd di ladang minyak El Feel yang bergantung pada Sharara untuk pasokan listrik.
"Produksi di kilang Zawiya juga berisiko karena ketergantungannya pada pasokan minyak mentah dari Sharara," papar NOC.
Libya telah berjuang untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi, eksplorasi, dan ekspor minyaknya sejak tahun 2011 karena perpecahan politik di dalam negeri.
Pada Jumat, anggota OPEC sepakat untuk menurunkan total produksi 800.000 bpd dan memastikan agar Libya dibebaskan dari kesepakatan pemangkasan minyak.