Rhany Chairunissa Rufinaldo
11 Maret 2019•Update: 12 Maret 2019
Hamdi Yildiz
ANKARA
Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang didukung PBB di Tripoli menyatakan keadaan darurat dan mobilisasi di kota Sirte.
Keputusan itu diambil setelah pasukan pimpinan Khalifa Haftar, yang bermarkas di Libya timur dan dikenal sebagai Tentara Nasional Libya, bergerak maju ke pinggiran selatan kota itu.
Pernyataan dari pasukan keamanan dan perlindungan di Sirte, yang berafiliasi dengan GNA, mengatakan semua pasukan milisi yang terhubung dengan pemerintah persatuan yang didukung PBB dipanggil untuk bertugas.
"Setiap serangan terhadap kota akan berarti deklarasi perang dan konsekuensinya akan berubah menjadi bencana," kata pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa pasukan Haftar berulang kali mengambil langkah-langkah provokatif.
Sementara itu, sejumlah aktivis mengunggah video di media sosial yang menunjukkan sejumlah pria bersenjata dari pasukan Haftar berpatroli di gerbang selatan kota.
Libya masih dirundung gejolak politik sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan kematian Presiden Muammar Gaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.
Sejak saat itu, perpecahan politik Libya membagi dua kursi kekuasaan yang saling bersaing - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata lengkap.