Nicky Aulia Widadio
11 Maret 2019•Update: 12 Maret 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Pemerintah Indonesia menyatakan bebasnya Siti Aisyah dari tuntutan hukuman dalam kasus pembunuhan saudara tiri Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Jong-nam merupakan hasil lobi panjang terhadap pemerintah Malaysia.
“Siti Aisyah bebas didasari oleh permintaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly kepada Jaksa Agung Malaysia,” ujar Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham Cahyo Rahadian Muhzar melalui siaran pers, Senin.
Pemerintah, sambung dia, mengangkat isu Siti Aisyah dalam pertemuan-pertemuan bilateral Indonesia-Malaysia, di antaranya pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad pada 29 Juni 2018 di Bogor.
Selain itu, isu ini juga dibahas pada pertemuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan Perdana Menteri Malaysia pada tanggal 29 Agustus 2018 di Putrajaya, Maaysia.
Cahyo menuturkan ada sejumlah hal yang mendasari permintaan pemerintah Indonesia terhadap pembebasan Siti Aisyah.
Pertama, terdakwa Siti Aisyah meyakini apa yang dilakukannya semata-mata bertujuan untuk kepentingan acara reality show.
“Dia tidak pernah memiliki niat untuk membunuh Kim Jong-nam,” kata Cahyo.
Kedua, Siti Aisyah telah dikelabui dan tidak menyadari sama sekali bahwa dia sedang diperalat oleh pihak intelijen Korea Utara.
Ketiga Siti Aisyah sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya.
Pengadilan Tinggi Shah Alam Malaysia mencabut tuntutan terhadap Siti Aisyah dalam persidangan pada Senin, 11 Maret 2019.
Setelah putusan tersebut, Siti Aisyah akan segera dipulangkan ke Indonesia.
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan pengacara Siti Aisyah meminta agar Siti Aisyah dibebaskan secara penuh dan kasus ini ditutup.
“Namun Hakim memutuskan ‘Discharge Not Amounting to Acquital’ (tuntutan dihentikan dan Siti Aisyah bebas),” ujar Iqbal melalui keterangan tertulis.
Sebelumnya, Siti Aisyah dan seorang warga Vietnam, Doan Thi Huong dituduh membunuh Kim Jong-nam menggunakan zat beracun ketika Jong-nam berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Februari 2017.