17 Juli 2017•Update: 17 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengaruh Ikhwanul Muslimin di Qatar hanya sebatas pada sektor pendidikan saja dan tidak memberikan dampak lebih lanjut terkait ideologis ataupun gerakan politis masyarakat Qatar.
Peneliti dari Pusat Penelitan Politik LIPI Nostalgiawan Wahyudhi, ada beberapa faktor yang membuat masyarakat Qatar tidak terpengaruh dengan ideologi dan pergerakan IM. Pertama adalah gerakan Islam cenderung tumbuh subur di negara yang memiliki kesenjangan sosial-politik dan ekonomi yang tinggi dan dihadapkan pada iklim politik yang authoritarian, pengangguran yang tinggi dan kemiskinan yang akut.
“Sedangkan kondisi ini tidak terjadi di Qatar. Tingkat pengangguran di Qatar hampir mendekati angka nol persen dengan pendapatan per kapita terbesar di dunia sebesar USD 146.011.”
Kemudian, keberadaan aktifis IM di Qatar dibatasi oleh regulasi dan kurikulum pendidikan di bawah kementrian pendidikan. Keberadaan mereka tetap sebagai pekerja imigran yang dibatasi secara politik dan ekonomi.
Faktor ketiga adalah institusionalisasi keagamaan seperti Mufti tidak terbentuk sehingga fatwa dan otoritas keagamaan tidak mendapatkan tempat, dan selalu dalam pengawasan keluarga emir atau didominasi negara.
“Kementrian Waqaf pun terbentuk setelah 22 tahun negara itu merdeka dan lebih berkonsentrasi pada kebjakan filantrofi, pendidikan, serta program-program moderasi seperti interfaith dialog di bawah Qatar foundation,” jelas Nostalgiawan.
Para ulama IM, menurutnya, terjebak dalam formalitas relasi dengan pemerintah melalui kementerian pendidikan. Namun, IM tidak bisa mengumpulkan kekuatan seperti di Mesir dengan menguasai kantong-kantong sosial seperti kafe, klub olah raga, dan pertemuan terbatas (halaqah/usrah) yang menjadi strategi paten IM dalam mengumpulkan massa.
“Di negara-negara yang memiliki permasalahan sosial-politik dan ekonomi yang akut seperti otoritarianisme, pengangguran, kemiskinan, dan lain-lain seperti di Mesir dan Aljazair, kantong-kantong sosial akan mudah terbentuk sebagai bentuk frustasi sosial. Hal inilah yang tidak tersedia di Qatar."
Sejak naiknya Emir Khalifa ibn Hamad al-Thani, program-program kesejahteraan sosial seperti ketersediaan lapangan pekerjaan, perumahan, dana pension, dan peningkatan pendapatan perkapita telah memperluas basis dukungan masyarakat terhadap keluarga al-Thani.