Rhany Chairunissa Rufinaldo
02 Desember 2019•Update: 03 Desember 2019
Burak Bir
ANKARA
Organisasi lingkungan Sahabat Bumi Internasional (FoEI) mengungkapkan bahwa pasar karbon merupakan kebangkitan kembali ancaman terhadap dunia yang dapat menghambat tindakan perubahan iklim.
"Dunia menghadapi munculnya kembali ancaman yang dapat menggagalkan tindakan mendesak terhadap krisis iklim: Pasar karbon kembali menjadi langkah awal sebagai 'solusi' yang diusulkan untuk mengurangi emisi," kata FoEI dalam sebuah pernyataan, Minggu.
Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB 2019 (COP25) yang akan digelar di ibu kota Spanyol, Madrid, pada 2-13 Desember, FoEI mengatakan bahwa dunia membutuhkan sistem ekonomi dan politik yang dapat melayani kebutuhan orang dan bukan hanya mencari keuntungan semata.
"Menanggulangi krisis iklim membutuhkan perubahan total, radikal, dan segera dalam penggunaan bahan bakar fosil dan aliran besar keuangan dari Utara global ke Selatan global," tambah organisasi itu.
FoEI menekankan bahwa meskipun perhatian dunia kemungkinan akan fokus pada keprihatinan negara-negara Eropa dan bukan Amerika Latin, dunia tidak boleh melupakan masalah mereka.
LSM itu merujuk khusus pada kasus Chili, yang menghadapi penindasan serta masalah yang berkaitan dengan iklim.
Istilah "pasar karbon" mengacu pada pasar di mana perusahaan memperdagangkan tunjangan emisi karbon yang bertujuan untuk mendorong mereka membatasi emisi CO2.
Karena adanya kebijakan "tutup" dan "penyeimbangan", pasar karbon dikritik keras oleh para aktivis lingkungan dan iklim karena secara teknis menawarkan kelanjutan dari emisi karbon yang juga membuatnya sulit untuk mencapai target emisi karbon yang telah dilakukan oleh negara-negara di bawah Persetujuan Paris.