Astudestra Ajengrastrı
28 Agustus 2018•Update: 28 Agustus 2018
Hajer M’tiri
PARIS
Mengharapkan Suriah kembali normal sementara tetap membiarkan Bashar al-Assad berkuasa adalah "kesalahan fatal", sementara kondisi di sana mendekati "momen kebenaran", kata Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin.
"Prancis tidak bisa menunjuk pemimpin Suriah berikutnya... Namun adalah tugas dan kepentingan kami untuk memastikan warga Suriah bisa melakukannya," ujar Macron dalam pidato keduanya di pertemuan tahunan konferensi para duta besar di Paris.
Dia, meski begitu, juga menyatakan tidak pernah memaksa Assad mundur sebagai imbalan memberikan bantuan kemanusiaan untuk negara tersebut.
Macron juga memperingatkan Assad akan menciptakan krisis kemanusiaan baru di Provinsi Idlib, tempat perlindungan terakhir bagi kelompok pemberontak dan jihadis di Suriah.
"Situasi ini berbahaya... Rezim [Suriah] tidak memperlihatkan keinginan untuk menegosiasikan transisi politik apapun."
Suriah terperangkap dalam perang sipil yang mematikan sejak 2011 ketika rezim Assad membasmi pedemo pro-demokrasi dengan kejam.
Sejak itu, ratusan ribu orang tewas dan jutaan lainnya harus mengungsi karena konflik, menurut PBB.
Pemimpin Prancis ini juga menjabarkan kebijakan luar negeri negaranya kepada sekitar 250 duta besar yang menghadiri konferensi, menekankan empat prioritas yang dicanangkannya tahun lalu -- keamanan, produk-produk perdagangan, daya tarik global Prancis dan Eropa.