Umar İdris
06 September 2019•Update: 09 September 2019
JAKARTA
Perdana Menteri Malaysia Mahathir bertemu dengan mitra kerjanya dari India, Perdana Menteri Narendra Modi, pada Kamis.
Pertemuan tersebut diadakan disela-sela pertemuan Forum Ekonomi Timur atau Eastern Economic Forum (EEF), di Vladivostok, Rusia.
Dalam pertemuan itu kedua pemimpin itu membahas masalah Jammu dan Kashmir sebagai topik utama, seperti dikutip dari Bernama.
Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah mengatakan Perdana Menteri Modi mengambil waktu untuk mengklarifikasi posisi Jammu dan Kashmir, sementara Mahathir menjelaskan pendirian Malaysia bahwa semua pihak harus bertemu dan mematuhi resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kata Saifuddan pada konferensi media, Kamis malam.
Saifuddin mengatakan perdana menteri Mahathir tidak menjanjikan dukungan atau melawan pihak manapun tetapi berharap konflik akan diselesaikan dan konflik itu tidak akan meningkat menjadi perang.
Selain mematuhi resolusi PBB, Mahathir mengatakan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah di Kashmir adalah melalui negosiasi serta membawa pihak ketiga jika perlu atau untuk membawa kasus tersebut ke pengadilan internasional.
Mengenai pentingnya masalah ini bagi Malaysia, Saifuddin menganggap Malaysia sebagai negara Islam dengan posisinya sendiri di antara negara-negara Islam yang dapat menjelaskan situasi aktual jika masalah tersebut diangkat di platform internasional mana pun.
Laporan-laporan media menyatakan bahwa ketegangan antara Pakistan dan India meningkat bulan lalu menyusul langkah India untuk membatalkan status khusus Jammu dan Kashmir yang memungkinkan orang-orang untuk merumuskan undang-undang mereka sendiri dan mencegah orang asing tinggal di wilayah tersebut.
Jammu dan Kashmir di Himalaya, memiliki populasi mayoritas Muslim, dan dibagi menjadi dua wilayah yang dikendalikan oleh India dan Pakistan. Kedua negara mengklaim kontrol penuh atas kedua wilayah.
Sejak 1947, kedua negara telah berperang tiga kali pada tahun 1948, 1965 dan 1971 untuk menguasai Kashmir.
Mengenai masalah Zakir Naik, Saifuddin mengatakan masalah ini dibahas sekilas. "Zakir Naik disebutkan oleh Perdana Menteri Modi secara sepintas dan dia (Modi) menyebutkan masalah itu sedang dibahas oleh petugas dari kedua negara".
"Begitulah cara dia (Modi) mempresentasikannya. Kemudian, Tun Dr Mahathir tidak menanggapi karena sebagian besar waktu digunakan untuk berdiskusi tentang Kashmir."