WASHINGTON
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu mengecam keras perang Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina, dan mendesak Moskow untuk "segera, sepenuhnya dan tanpa syarat" menarik diri dari tetangganya di Eropa timur itu.
Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi dengan suara mayoritas 141 setuju banding 5 menolak, dengan 35 lainnya abstain saat perang Rusia memasuki minggu kedua.
Rusia, Belarus, Suriah, Korea Utara, dan Eritrea memberikan suara menolak. Negara yang abstain termasuk China, Kuba, El Salvador, India, Iran dan Pakistan.
Resolusi tersebut, yang memiliki lebih dari 90 sponsor bersama, "menyesalkan dengan tegas" "agresi" Rusia, dan menuntut agar Kremlin "segera menghentikan penggunaan kekuatan militernya terhadap Ukraina."
Utusan Amerika untuk PBB Linda Thomas-Greenfield berbicara sebelum pemungutan suara dan mengutuk Rusia dengan tajam, dengan mengatakan perang Rusia telah "mendorong kelaparan massal dan menyebabkan begitu banyak orang meninggalkan rumah mereka."
"Sekarang tampaknya Rusia sedang bersiap untuk meningkatkan kebrutalan kampanyenya melawan Ukraina," kata Thomas-Greenfield.
“Kami telah melihat video pasukan Rusia memindahkan persenjataan yang sangat mematikan ke Ukraina, yang tidak memiliki tempat di medan perang. Itu termasuk amunisi tandan dan bom vakum, yang dilarang di bawah Konvensi Jenewa.”
Dalam seruan langsung yang jarang terjadi, Thomas-Greenfield menuntut pasukan Rusia di Ukraina "meletakkan senjata kalian dan meninggalkan Ukraina," dia juga turut memberi tahu pasukan Rusia bahwa "pemimpin mereka berbohong kepada kalian."
Duta Besar Rusia Vasily Nebenzya menuduh Barat menerapkan "tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya" pada "sejumlah besar negara" untuk memilih mendukung resolusi sambil terus menuduh para pemimpin Ukraina sebagai orang-orang "radikal."
Rusia memulai serangannya di Ukraina pada 24 Februari. Serangan itu telah mengakibatkan sedikitnya 136 warga sipil tewas, termasuk 13 anak-anak, menurut perkiraan PBB. Sekitar 400 lainnya terluka, termasuk 26 anak-anak.
Serangan nasional telah menyebabkan lebih dari 874.000 orang melarikan diri dari Ukraina ke negara-negara tetangga, menurut Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pada Rabu.
Rusia mengintensifkan serangan rudal dan artileri minggu ini, terutama di ibu kota, Kyiv, dan kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, di mana terjadi ledakan besar mengguncang pusat kota.
Kharkiv, dekat perbatasan Rusia, adalah rumah bagi 1,5 juta orang, sedangkan penduduk Kyiv hampir 3 juta.
Sergiy Kyslytsya, duta besar Ukraina untuk PBB, mengatakan pasukan Rusia "datang untuk merampas hak Ukraina untuk hidup."
“Kejahatan itu sangat biadab sehingga sulit untuk dipahami. Menghadapi perlawanan total dari penduduk Ukraina, rezim Putin telah melanjutkan penggunaan senjata tanpa pandang bulu secara luas, seperti peluncur roket ganda, dan bom udara terhadap daerah pemukiman,” ujar dia.
“Sudah jelas bahwa tujuan Rusia bukan hanya pendudukan. Ini adalah genosida,” pungkas Kyslytsya.
news_share_descriptionsubscription_contact
