Michael Gabriel Hernandez
24 Juni 2021•Update: 24 Juni 2021
WASHINGTON
Majelis Umum PBB pada Rabu mengulangi seruannya agar Amerika Serikat (AS) mengakhiri embargonya terhadap negara kepulauan Kuba.
Seruan tersebut disampaikan usai serangkaian pemungutan suara tahunan yang telah berlangsung lama yang menuntut agar tindakan era Perang Dingin dihentikan.
Dalam pemungutan suara, 184 negara memberikan suara mendukung, dengan dua negara menentang - Amerika Serikat dan Israel. Tiga negara abstain untuk memberikan suara.
Berbicara di depan majelis menjelang pemungutan suara, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Eduardo Rodriguez Parrilla mengatakan embargo itu memperparah kesengsaraan negaranya selama pandemi Covid-19, yang mengharuskan pemerintah Kuba untuk mencari solusi untuk obat-obatan yang sangat dibutuhkan dan diproduksi di AS yang harganya meroket.
"Mereka melakukan perhitungan jika mereka membuat rakyat Kuba menderita, dan jika mereka mempromosikan pemimpin buatan yang menghasut kekacauan dan ketidakstabilan, mereka akan dapat menyiapkan gerakan politik virtual pada gerakan sosial untuk kemudian membawanya ke dunia nyata," kata dia.
"Mereka meluncurkan kampanye baru, dan semangat baru intoleransi ideologis, dan melancarkan serangan brutal baru terhadap mereka yang membela kebenaran," tambah dia.
Pemungutan suara pada Rabu menandai ke-29 kalinya majelis menyerukan agar blokade diakhiri, meskipun itu hanya dapat dilakukan dengan tindakan Kongres AS.
Sementara embargo dilonggarkan pada 2000 untuk memungkinkan pengiriman makanan dan barang-barang kemanusiaan ke Kuba.