16 Agustus 2017•Update: 16 Agustus 2017
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Kepala salah satu serikat pekerja terbesar di AS mengumumkan dia mundur dari dewan penasihat bisnis Presiden AS Donald Trump.
Richard Trumka, presiden Federasi Buruh Amerika dan Kongres Organisasi Industri (AFL-CIO) mengeluarkan pernyataan yang mengatakan dia mengundurkan diri dari dari Dewan Manufaktur Amerika. Wakil kepala staf dewan Thea Lee juga mundur.
“Kami tidak bisa berada dalam dewan bagi presiden yang mentolerir kefanatikan dan terorisme domestik,” kata mereka.
“Pernyataan Presiden Trump hari ini menyangkal pernyataan sebelumnya yang tampak terpaksa, mengenai kelompok KKK dan neo-Nazi,” tambah mereka.
“Kami harus mundur untuk menghormati warga kelas pekerja Amerika, yang menolak melegitimasi kelompok-kelompok fanatik itu.”
6 tokoh bisnis telah mundur dari dewan tersebut, dengan beberapa dari mereka mengumumkan niat mundur melalui media sosial.
“Saya mundur dari Inisiatif Lahan Kerja Manufaktur karena hal itu benar bagi saya,” kata presiden Aliansia Manufaktur Amerika Scott Paul di laman Twitternya.
Hanya beberapa menit sebelum itu, Trump juga berkicau: “Untuk semua CEO yang mundur dari dewan kebijakan, saya memiliki banyak orang untuk menggantikan mereka.”
Trump kemudian mengatakan para eksekutif yang meninggalkan dewan “tidak menganggap serius pekerjaan mereka” dan mundur “karena malu” setelah “diceramahi” mengenai kebijakan America First.
Sebelumnya CEO Merck & Co. Kenneth Frazier merupakan yang pertama untuk mundur dari dewan pada Senin, diikuti oleh CEO Intel Corp. Brian Krzanich dan CEO Under Armour Kevin Plank.
Semua pengunduran diri itu datang setelah Presiden Trump memberikan pernyataan mengenai demonstrasi akhir pekan oleh kelompok supremasi kulit putih. Kericuhan itu kemudian menewaskan seorang perempuan berusia 32 tahun.
Frazier, satu dari sedikit warga AS kulit hitam yang menjadi CEO perusahaan Fortune 500, menyatakan Trump “harus menghormati pandangan fundamental kami dengan jelas menolak kebencian, kefanatikan dan supremasi kelompok”.
Sedangkan pemimpin perusahaan teknologi Intel lebih blak-blakan, mengatakan dia “mundur untuk menyoroti dampak buruk dari iklim politik kita yang berimbas pada isu-isu kritis, termasuk pentingnya mengomentari penurunan industri manufaktur AS.”
Kepala rantai supermarket Walmet Doug McMillon juga mengkritik Trump yang “melewatkan kesempatan untuk mempersatukan bangsa”.
“Ketika kami menyaksikan kejadian dan kemudian respon Presiden Trump pada akhir pekan, kami juga merasa dia melepaskan kesempatan besar untuk mempersatukan negara dengan menolak mentah aksi anarki kelompok supremasi kulit putih,” bunyi pernyataannya.