07 September 2017•Update: 07 September 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Setelah menyatakan akan menyerang Korea Utara (Korut) dengan "api dan amarah", Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini mengatakan bahwa tindakan militer balasan terhadap Korut bukan pilihan pertama.
Namun saat ditanyai oleh wartawan sebelum menaiki Marine One dalam perjalanannya keluar dari Washington, Trump tidak mengesampingkan tindakan militer terhadap Pyongyang.
"Kita akan melihat apa yang terjadi," tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul menyusul perbincangannya lewat telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jin Ping pada Rabu pagi, yang oleh Trump disebut sebagai "panggilan telepon yang sangat jelas dan terus terang".
Perbincangan tersebut menyinggung soal krisis Korut dan Trump menyebutkan bahwa Xi ingin melakukan sesuatu.
"Kita akan melihat apakah ia bisa melakukannya atau tidak, namun kita tidak akan menanggapi apa yang terjadi di Korut. Saya yakin Presiden Xi setuju dengan saya. Ia juga tidak ingin tahu-menahu mengenai apa yang terjadi di sana" ujar Trump.
Korut terus melancarkan uji coba rudal balistik dan nuklir meskipun telah mendapat tekanan dari masyarakat internasional.
Kantor berita Korut KCNA, Minggu, mengklaim bahwa Pyongyang telah melakukan uji coba bom hidrogen untuk pertama kalinya yang dapat dipasang pada rudal balistik antarbenua (ICBM).
Awal Agustus, Korut telah dikenai sanksi oleh Dewan Keamanan PBB karena meluncurkan sepasang ICBM pada Juli. Sanksi baru untuk Pyongyang di antaranya larangan ekspor batubara, besi, timah, dan makanan laut, yang dapat memangkas pendapatan tahunan negara sebesar USD 1 miliar.
AS tengah mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Korut untuk melarang aktivitas perdagangan dengan Korut.