Ahmet Gurhan Kartal
06 Maret 2018•Update: 06 Maret 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Seorang mantan mata-mata Rusia diyakini adalah satu dari dua orang yang dirawat di rumah sakit setelah ditemukan tak sadarkan diri di Salisbury, Inggris, menurut laporan setempat.
Sergei Skripal, 66 tahun, yang dilaporkan sedang sakit dalam keadaan kritis, diberikan suaka oleh Inggris dalam program pertukaran mata-mata antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada 2010.
Seorang pria berusia 60-an dan perempuan berusia 30-an ditemukan tidak sadarkan diri di pusat perbelanjaan Maltings pada Minggu siang, menurut laporan polisi.
"Keduanya saat ini sedang menjalani perawatan setelah diduga terpapar sebuah zat yang tidak diketahui," baca pernyataan polisi. "Keduanya dalam keadaan kritis dan menjalani perawatan intensif."
Polisi juga mengatakan investigasi terhadap kasus ini masih berada pada tahap awal dan belum diketahui apakah ada motif kriminal.
"Namun kami sudah menyatakan ini sebagai insiden besar dan mempersiapkan kerja sama berbagai pihak," kata anggota polisi Craige Holden.
"Kami sedang menyelidiki mengapa kedua orang ini tiba-tiba pingsan dan memastikan ada atau tidaknya aktivitas kriminal," lanjutnya.
Skripal dinyatakan bersalah atas tuntutan "pengkhianatan luar biasa dalam bentuk spionase" oleh pengadilan Moskow pada 2006. Dia dijatuhkan hukuman 13 tahun penjara.
Dia adalah satu dari empat warga Rusia yang ditukar dengan 10 agen mata-mata Moskow di AS.
Holden mengatakan insiden di Salisbury itu "belum dinyatakan sebagai peristiwa kontra-terorisme" dan dia juga mengimbau agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan sendiri.
Insiden yang belum bisa dijelaskan ini mirip dengan keracunan yang dialami mantan agen KGB yang membelot dari Rusia, Alexander Litvinenko.
Dia meninggal dunia karena keracunan zat radioaktif pada 2006 setelah meneguk teh yang mengandung polonium-210, di sebuah hotel di London.
Keluarga Litvinenko yakin dia bekerja sama dengan badan intelijen Inggris pada saat ini dan dibunuh oleh agen-agen rahasia Rusia.
Mantan anggota KGB Andrei Lugovoi dan Dmitry Kovtun ditetapkan sebagai dua tersangka utama, namun keduanya mengatakan tidak terlibat sama sekali.