Muhammad Abdullah Azzam
04 Juli 2020•Update: 04 Juli 2020
Sarp Ozer
TRIPOLI
Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar dan Kepala Staf Umum Jenderal Yasar Guler pada Jumat mengunjungi Libya untuk meninjau kegiatan militer di bawah MoU antar kedua negara.
Upacara militer diadakan untuk menyambut keduanya setelah mereka tiba di Bandara Internasional Mitiga di ibu kota Tripoli.
Setelah upacara tersebut, Akar dan Guler pergi ke Komando Penasihat Kerjasama Keamanan dan Dukungan Pelatihan, yang didirikan dalam kesepakatan dua negara.
Keduanya bertemu dengan tentara Turki dan Libya, termasuk Osama al-Juwaili, komandan Operasi Badai Perdamaian.
Akar menegaskan kembali dukungan Turki kepada rakyat Libya serta memastikan kondisi mereka tetap “nyaman, lebih bahagia, dan lebih percaya diri.”
"Saya ingin Libya tahu bahwa kami bersama Anda hari ini dan besok, dan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk saudara-saudara Libya kami di bawah instruksi presiden kami," kata Akar.
Pada 27 November 2019, Ankara dan Tripoli menandatangani dua MoU; satu tentang kerja sama militer dan lainnya tentang batas-batas laut di Mediterania Timur.
Pakta kelautan itu menegaskan hak Turki di Mediterania Timur dalam menghadapi pengeboran sepihak oleh pemerintah Siprus Yunani, mengklarifikasi bahwa Republik Turki Siprus Utara (TRNC) juga memiliki hak atas sumber daya di daerah tersebut.
Setelah kesepakatan kerja sama militer, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Ankara dapat mempertimbangkan pengiriman pasukan ke Libya jika pemerintah Tripoli yang diakui PBB mengajukan permintaan semacam itu.
Libya dilanda perang saudara sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011.
Pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan Khalifa Haftar.
PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai otoritas sah negara itu, karena Tripoli telah memerangi milisi Haftar sejak April 2019, sebuah konflik yang telah merenggut 1.000 nyawa.
Pada Maret kemarin, pemerintah Libya meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan di ibu kota dan baru-baru ini merebut kembali lokasi-lokasi strategis, termasuk pangkalan udara Al-Watiya dan kota Tarhuna yang strategis.