Şahin Demir
06 Mei 2026•Update: 07 Mei 2026
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Iran tetap serius menempuh jalur diplomasi sambil mempertahankan kesiapan penuh menghadapi setiap “tindakan bermusuhan”, saat bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, Rabu.
Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi memaparkan perkembangan terbaru upaya diplomatik dan berbagai inisiatif untuk mengakhiri perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, termasuk negosiasi yang sedang dimediasi Pakistan antara Teheran dan Washington.
“Iran, sebagaimana bertindak tegas dalam membela diri dan tetap sepenuhnya siap menghadapi setiap agresi, juga serius dan teguh di bidang diplomasi,” kata Araghchi.
Ia juga memuji sikap China yang menentang apa yang disebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat dan Israel selama konflik 40 hari tersebut.
Araghchi berharap China, yang saat ini memegang presidensi bergilir Dewan Keamanan PBB, terus memainkan “peran konstruktif” dalam mencegah pelanggaran lebih lanjut terhadap perdamaian dan keamanan internasional.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Araghchi mengatakan dirinya mengadakan “pertemuan konstruktif” dengan Wang di Beijing.
Ia menyebut kedua pihak kembali menegaskan hak Iran untuk menjaga “kedaulatan nasional dan martabat nasionalnya”, sementara Teheran juga menghargai proposal empat poin China untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
“Iran percaya kepada China dan menantikan peran aktifnya yang berkelanjutan dalam mendorong perdamaian dan mengakhiri konflik,” kata Araghchi.
Ia menambahkan Iran juga mendukung upaya pembentukan “kerangka kawasan pascaperang baru” yang dapat menyeimbangkan pembangunan dan keamanan.
China dukung diplomasi
Wang Yi memuji apa yang disebutnya sebagai “pendekatan bertanggung jawab” Iran dan kembali menegaskan dukungan Beijing terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Iran, menurut pernyataan Iran.
Menteri luar negeri China itu mengatakan Beijing menentang penggunaan kekuatan dan kelanjutan “perang ilegal”, seraya memperingatkan dampaknya tidak hanya dirasakan Iran tetapi juga kawasan dan komunitas internasional.
Ia juga kembali menegaskan dukungan China terhadap diplomasi dan dialog sebagai satu-satunya jalan penyelesaian sengketa di kawasan.
Kedua pihak turut membahas kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral serta sepakat melanjutkan konsultasi tingkat tinggi antara kedua negara.
Posisi pascaperang
Dalam wawancara terpisah dengan stasiun televisi pemerintah Iran IRIB, Araghchi mengatakan para pejabat China menilai Iran muncul dari perang dengan posisi internasional yang lebih kuat.
“Rekan-rekan kami di China percaya Iran setelah perang berbeda dengan Iran sebelum perang,” ujarnya.
Menurut dia, Teheran telah menunjukkan kemampuan dan kekuatannya sehingga “fase baru” kerja sama antara Iran dan negara-negara lain akan dimulai.
Araghchi mengatakan pembicaraan juga mencakup upaya mengakhiri perang, negosiasi yang sedang berlangsung, sanksi, program nuklir Iran, dan isu bilateral.
Ia menambahkan Selat Hormuz menjadi “salah satu topik serius” yang dibahas, termasuk perlunya penghormatan terhadap hak-hak Iran dan perbedaan pandangan terkait isu tersebut.
Kunjungan Araghchi berlangsung menjelang rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei, di tengah ketegangan di Selat Hormuz yang masih diblokade.
Pertemuan itu menjadi pembicaraan tatap muka pertama Araghchi dan Wang sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Sebelumnya, kedua pihak beberapa kali melakukan percakapan melalui telepon selama konflik berlangsung.