Chandni
10 April 2018•Update: 11 April 2018
Khalilur Rahman Salahshoor
ERZURUM, Turki
Pengangguran, kemiskinan, dan ketidak amanan di negara asal mereka memaksa lebih banyak warga Afghanistan mengambil risiko untuk meninggalkan rumah dengan tujuan mencari kehidupan yang lebih baik. Namun dalam perjalanan itu, mereka sering menjadi korban perdagangan manusia.
Tahun lalu, semakin banyak warga Afghanistan mencoba masuk ke Turki secara ilegal lewat perbatasan Iran, khususnya di provinsi Erzurum, Agri, Igdir, dan Van.
Pekan lalu saja, sekitar 2.500 warga Afghanistan ditahan oleh pasukan keamanan Turki.
Setelah melalui proses hukum, para migran gelap dikembalikan ke negara asal mereka melalui penerbangan charter dari Erzurum.
Dikabarkan, para warga Afghanistan berani membayar antara USD1.000 hinga USD1.300 kepada penyelundup manusia untuk memastikan mereka bisa ke Istanbul.
Habiskan lebih dari USD 1.000
Muhammad Ishak, seorang warga Afghanistan, mengatakan dia harus berjalan selama 50 kilometer dari perbatasan Iran untuk sampai ke Agri.
Kepada Anadolu Agency dia mengaku penyelundupnya menelantarkan 180 warga Afghanistan begitu saja dan melarikan diri.
"Mereka mengatakan bisa membawa saya ke Istanbul dengan harga USD1.300. Setelah saya membayar, mereka membawa saya dan beberapa warga Afghanistan lain ke perbatasan Iran. Setelah menyeberangi gunung, kami mencapai kawasan Saravan di Iran. Kemudian kami dibawa ke perbatasan Turki-Iran," terang Ishak.
Seorang migran lainnya, Atikullah, mengatakan dia membayar USD 1.000 untuk dibawa ke Istanbul, namun ditelantarkan di perbatasan Iran.
"Kami menghabiskan waktu 11 hari di Iran. Selama di sana kami melihat banyak pencuri. Kami ingin bekerja untuk membantu keluarga. Bila ditahan, kami akan dideportasi dan dikembalikan ke negara asal," cerita Atikullah.
Dia mengatakan tidak tertarik ke Eropa, melainkan hanya ingin ke Istanbul untuk mencari kerja.
Perlakuan buruk di Iran
Gulam Hussain, seorang migran Afghanistan lainnya, mengatakan dia meninggalkan kawasan Lagman di Afghanistan yang masih di bawah kuasa Taliban.
"Kami makin sulit melakukan mata pencaharian. Saya menempuh perjalanan ini untuk mencapai Eropa, namun banyak menghadapi kesulitan, khususnya di Iran," terangnya.
Gulaga Seyit Murat, salah satu migran Afghanistan gelap yang ditahan di Erzurum, mengatakan kondisi hidup di Iran sangat buruk.
"Saya meninggalkan rumah untuk bekerja di Iran namun kondisi di sana sangat buruk dan saya tidak bisa mencari kerja. Iran tidak menginginkan kami, kami ditahan dan dideportasi," kata Murat.
Muhammed, seorang migran lainnya, masuk ke Turki secara ilegal setelah menetap di Iran selama 25 tahun.
Muhammed mengatakan selama hidup di sana, keluarganya tidak memiliki hak apapun.
"Kami bahkan tidak bisa bersekolah di Iran. Oleh karena itu kami ke Turki. Kami Muslim dan memiliki persaudaraan dengan warga Turki. Kami memohon agar Turki tidak memulangkan kami. Kami siap ditempatkan di mana saja di negara ini, kami siap bekerja dan menghidupi diri sendiri," tuturnya.