Pizaro Gozali İdrus
20 Desember 2018•Update: 21 Desember 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Front Pembebasan Islam Moro (MILF) memperingatkan kelompok-kelompok ekstremis akan mencoba mengambil keuntungan jika ratifikasi UU Organik Bangsamoro gagal, lansir Philstar pada Rabu.
Plebisit untuk ratifikasi BOL akan berlangsung pada 21 Januari dan 6 Februari 2019.
BOL adalah realisasi perjanjian damai tahun 2014 antara pemerintah Filipina dan MILF.
“Jika BOL gagal, mereka akan memanfaatkan kegagalan ini untuk melakukan operasi,” ujar Ketua MILF Haj Murad Ebrahim dalam sebuah wawancara pada Rabu.
Murad mencatat bahwa kelompok Abu Sayyaf, Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF), dan kelompok Maute terbentuk setelah buntunya proses perdamaian.
“Jika Anda melihatnya, itu semua terkait dengan proses perdamaian. Jika ada buah dari proses perdamaian yang dapat diterima rakyat, maka orang-orang ini tidak punya pilihan. Mereka harus menerima; jika tidak, mereka akan diasingkan oleh masyarakat,” kata Murad.
Murad yakin BOL akan disetujui oleh konstitusi. Meskipun ada desakan dari Asosiasi Konstitusi Filipina yang meminta Mahkamah Agung menetapkan BOL sebagai aturan inkonstitusional.
Provinsi Sulu Oktober lalu juga mempertanyakan konstitusionalitas BOL.
“Ini telah diproses berkali-kali selama negosiasi, selama pembuatan hukum, selama pengesahannya di Kongres. Semua orang memastikan hukum akan menjadi konstitusional,” kata Murad.
Plebisit untuk ratifikasi BOL akan menentukan apakah 39 desa di Cotabato Utara, enam kotamadya di Lanao del Norte, dan kota Cotabato di Maguindanao dan Isabela di Basilan akan dimasukkan dalam wilayah Bangsamoro yang diusulkan.
Jika masyarakat setuju, maka Filipina akan memulai sejarah baru dengan penerapan otonomi khusus pada basis Muslim di wilayah Selatan.
Selain itu, masyarakat Muslim tersebut juga akan memiliki pemimpin administratif sendiri dengan tetap menginduk kepada Presiden Filipina.