Astudestra Ajengrastrı
23 Maret 2018•Update: 24 Maret 2018
Ovunc Kutlu
NEW YORK
Imbas negatif akan terjadi pada pertumbuhan ekonomi Tiongkok bila AS terus memperluas tarif dan mengadopsi kebijakan perdagangan proteksionisme, ujar Moody’s Investor Service pada Kamis.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan akan memberlakukan tarif USD60 miliar untuk impor dari Tiongkok, dan mengusulkan penambahan 25 persen tarif untuk produk-produk tertentu dari negara ini.
"Moody Investors Service melihat maksud langkah yang diumumkan pemerintah AS ini untuk membatasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok," kata lembaga pemeringkat itu melalui sebuah pernyataan.
Namun, "dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan industri-industri tertentu akan lebih besar jika AS secara signifikan memperluas tarif dan tindakan proteksionis lain secara signifikan dan luas," imbuh Moody's.
Agensi tersebut menuliskan beberapa ekspor penting Tiongkok ke pasar Amerika seperti gabus dan produk kayu, furnitur, mesin kantor, peralatan rumah tangga, peralatan listrik, kendaraan jalan, peralatan telekomunikasi, mesin listrik, pakaian jadi dan alas kaki, minyak dan lemak hewan.
"AS menerima antara 15 persen hingga 35 persen dari total ekspor Tiongkok oleh masing-masing sektor ini," kata Moody's.
"Selain itu, peralatan telekomunikasi, mesin kantor, dan mesin listrik jumlahnya sepertiga dari total ekspor Tiongkok ke AS pada tahun 2017," tambahnya.
Moody memperingatkan bahwa jika AS mengadopsi kebijakan perdagangan proteksionisme yang lebih luas, ini dapat membuka keinginan untuk membalas dendam dari negara lain. Dan, ini dapat berdampak negatif terhadap profil kredit negara-negara Asia karena perekonomian kawasan ini sangat bergantung pada industri dan perdagangan.
"Asia paling terpengaruh oleh kebijakan perdagangan AS karena volume ekspor langsung ke AS, dan juga karena aktivitas perdagangan menengah melalui rantai pasokan, terutama melalui Tiongkok," kata Moody's.
"Selain itu, kebijakan AS ini yang menargetkan negara-negara dengan defisit perdagangan bilateral besar-besaran dapat berdampak negatif terhadap perekonomian beberapa negara lain di kawasan itu, termasuk Jepang dan Korea, seperti juga Tiongkok," tambahnya.