İqbal Musyaffa
04 Desember 2019•Update: 05 Desember 2019
JAKARTA
Moody’s Investors Service menilai target pengembangan energi terbarukan di Indonesia terlalu ambisus.
Indonesia menargetkan tercapainya kontribusi energi terbarukan sebesar 23 persen dalam bauran energi pada 2025 dan meningkat jadi 31 persen pada 2050.
Analis Senior Kelompok Keuangan, Infrastruktur, dan Proyek Moody’s Investor Service Abhisek Tyagi mengatakan target tersebut terlalu tinggi bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dengan kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi baru mencapai 12 persen.
“Minyak setidaknya harus berkontribusi kurang dari 25 persen dalam bauran energi pada 2025 dan 20 persen pada 2050 untuk mencapai target tersebut,” jelas Tyagi dalam diskusi di Jakarta, Rabu.
Selain itu, dia mengatakan Indonesia juga menargetkan untuk mengurangi emisi karbon sebesar 26 persen dengan usaha sendiri, dan 41 persen dengan dukungan internasional.
Sementara itu, Tyagi menilai Indonesia masih tergantung dengan pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi khususnya untuk listrik karena lebih murah bila dibandingkan dengan sumber energi angin dan solar.
Dia menambahkan bahwa Indonesia berencana menambah 50,4 gigawatt kapasitas generasi listrik terbaru dalam 10 tahun ke depan dengan porsi batu bara dalam generasi pembangkit tersebut meningkat dari 60 persen tahun 2018 menjadi 67,8 persen pada 2022.
“Melimpahnya cadangan batu bara juga menjadi pendorong peningkatan porsi batu bara,” tambah Tyagi.
Padahal, Tyagi mengungkapkan fokus pengembangan energi terbarukan harusnya fokus pada pengembangan panas bumi dan energi hydro.
Tyagi mengungkapkan tantangan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia antara lain kendala wilayah kepulauan Indonesia membatasi ukuran proyek selain level harga enegi batu bara masih menjadi yang termurah.
Pengembangan energi terbarukan juga bisa menimbulkan risiko aset terlantar untuk kapasitas energi yang bersumber dari batu bara dan minyak bumi.
“Batu bara masih berperan penting dalam perekonomian Indonesia selain juga masih ada selisih tarif berdasarkan Permen ESDM 50 tahun 2017,” kata dia.
Tyagi mengatakan pengembangan energi terbarukan di Indonesia juga terkendala kurangnya konsistensi dalam kerangka kerja kebijakan dan regulasi.
“Tidak adanya jaringan listrik yang kuat di banyak pulau membuat proyek energi terbarukan menjadi sulit,” imbuh Tyagi.
Dia menyarankan Indonesia belajar dari India dalam pengembangan energi terbarukan karena telah mengambil langkah maju dalam 3 hingga 4 tahun terakhir untuk meningkatkan kontribusi energi bersih dalam bauran energi.
“Sebanyak 37 persen kapasitas listrik terpasang di India sudah berbasis bahan bakar non-fosil,” jelas Tyagi.
Pengembangan energi solar dan angin di India juga pesat didukung oleh pengurangan biaya modal dan kerangka kebijakan yang menguntungkan di antaranya implementasi kewajiban membeli energi terbarukan untuk pembangkit listrik.
Tyagi mengatakan pengembangan energi terbarukan di India juga memberikan manfaat finansial seperti adanya dana kelayakan viabilitas serta terbuka 100 persen bagi investasi asing langsung.