Pizaro Gozali İdrus
16 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) mengajak dunia internasional mengecam keras tindakan pemerintah Amerika Serikat memindahkan Kedutaan Besarnya ke Yerusalem.
“Ini jelas melanggar kedaualatan atas suatu negara yang sudah menjadi konsensus internasional,” ujar Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini kepada Anadolu Agency, Rabu, di Jakarta.
Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan langkah penyelematan dan mendorong masyarakat dunia untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.
PBNU sendiri, kata Helmy, akan melakukan penggalangan dana melalui Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LazisNU) dan mengimbau warga NU untuk turut memberikan bantuan kemanusiaan.
Hingga hari ini, tercatat 62 warga Gaza gugur dalam aksi protes atas pemindahan Kedubes AS.
“Kita akan serukan kembali untuk membuka kotaknya [donasi],” kata Helmy.
Selain itu, Helmy berharap pemerintah Indonesia bisa dengan tegas mengingatkan AS bahwa pemindahan Kedubes dapat menumbuhkan benih-benih radikalisme.
“Efek bola salju dari langkah politik yang keliru dari AS sama dengan menyuburkan aksi kekerasan. Itu yang berbahaya, jadi seolah-olah radikalisme dan terorisme jadi sebuah pembenaran dalam menghadapi AS,” kata Helmy.
Helmy juga meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersikap tegas saat menggelar sidang luar biasa soal Palestina.
Salah satunya dengan mempertimbangkan ulang hubungan diplomatik dengan Amerika dalam konteks ekonomi.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengapresiasi langkah perjuangan rakyat Palestina dalam menantang pendudukan Israel termasuk menentang pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat untuk Israel ke Yerusalem.
“Kita hargai perjuangan mereka. Dan kita juga turut prihatin dengan jatuhnya banyak korban. Itu risiko dari perjuangan,” ungkap Kalla usai rapat terbatas di Jakarta, Selasa.
Jusuf Kalla juga menyampaikan rasa duka cita atas gugurnya korban jiwa warga Palestina dan ribuan lainnya terluka dalam protes yang ditujukan untuk memperingati hari Nakba atau Malapetaka dan untuk memprotes relokasi kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Sebagai informasi, hari Nakba adalah sebutan yang diberikan oleh orang Palestina terkait dengan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948.