Ekip
28 Mei 2021•Update: 28 Mei 2021
JENEWA
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada Kamis mengutuk serangan Israel baru-baru ini terhadap warga Palestina dan penggunaan "kekuatan mematikan" terhadap pengunjuk rasa dan kekerasan pemukim Yahudi yang disponsori negara.
Khalil Hashmi, duta besar Pakistan untuk PBB di Jenewa, berbicara atas nama OKI pada sesi khusus Dewan Hak Asasi Manusia yang beranggotakan 47 orang untuk membahas "situasi HAM yang serius" di wilayah Palestina yang diduduki.
"Atas nama negara-negara anggota OKI yang telah meminta rapat khusus ini, kami mengutuk keras agresi militer Israel baru-baru ini, penggunaan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa secara damai, dan kekerasan pemukim yang disponsori negara terhadap rakyat Palestina," ungkap Hashmi.
Pada sesi tersebut, OKI menyerukan penyelidikan khusus atas "kejahatan perang yang dilaporkan secara luas" yang dilakukan selama pertempuran 11 hari baru-baru ini yang dimulai pada 10 Mei.
"Kami juga menyesalkan tindakan yang tidak dapat diterima oleh pasukan Israel termasuk penyerbuan ilegal ke Masjid al-Aqsa, penggunaan kekerasan dan perusakan kesucian tempat ibadah selama bulan suci Ramadan," kata diplomat Pakistan itu.
"OKI mengutuk laju penggusuran ilegal dan pembongkaran rumah dan properti Palestina yang terus meningkat," imbuh dia.
Dalam 11 hari, Hashmi mencatat 277 warga sipil Palestina tewas, termasuk 70 anak-anak dan 40 wanita, sementara 8.500 terluka dan 75.000 mengungsi di wilayah pendudukan Palestina.
Utusan Pakistan itu mengatakan bahwa infrastruktur sipil penting, seperti sekolah, rumah sakit, dan media, dengan sengaja menjadi sasaran dan diratakan oleh serangan "pasukan penjajah."
“Akibatnya, hari ini, rakyat Palestina memiliki akses terbatas untuk air, sanitasi, dan layanan kesehatan, mereka berani menghadapi virus Covid-19 yang mematikan dan bahkan penjajah yang lebih mematikan,” kata Hashmi.
"OKI menegaskan kembali dukungannya yang tanpa henti untuk perjuangan sah rakyat Palestina untuk merealisasikan hak mereka yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasib sendiri," tukas dia.