Adham Kako, Mohamad Misto
GHOUTA TIMUR/ANKARA
Oposisi militer Suriah pada Kamis malam kembali mengendalikan wilayah Hamouriyah setelah memukul mundur rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pendukungnya.
Rezim yang masih tidak mengikuti resolusi gencatan senjata Dewan Keamanan PBB, pada Kamis malam bergerak maju ke daerah tersebut setelah melakukan serangan darat dan udara intensif dalam operasi untuk merebut Ghouta Timur yang mereka luncurkan pada 3 Maret lalu.
Menurut koresponden Anadolu Agency di Ghouta Timur, oposisi militer berhasil mengendalikan pusat kota Hamouriyah setelah terlibat bentrok dengan rezim dan pendukungnya.
Pada 12 Maret lalu, rezim dan pendukungnya membagi Ghouta timur menjadi tiga bagian, dan menargetkan jalur keluar ke daerah Hamouriyah di bagian selatan serta wilayah oposisi di sekitarnya.
Sekitar 3.000 warga sipil harus meninggalkan daerah tersebut dan menuju ke daerah yang dikuasai pasukan rezim.
-- 51 warga sipil tewas dalam 2 hari terakhir
Menurut sumber Pertahanan Sipil (White Helmets), rezim dan pendukungnya masih terus tidak mematuhi keputusan gencatan senjata Dewan Keamanan PBB dan Rusia dengan menyerang daerah-daerah pemukiman sipil.
Serangan-serangan udara dan darat yang diluncurkan oleh rezim dan pendukungnya ke Ghouta Timur menewaskan 15 warga sipil di daerah Hamouriyah, satu di Hizze, tujuh di Arbin, dua di Kafr Batna, empat di Saqba, satu di Jisrin dan dua warga sipil di Duma.
Tim Pertahanan Sipil mengatakan, 19 orang yang mengalami luka berat akibat serangan-serangan sebelumnya tewas pada Kamis.
Dengan begitu, jumlah korban tewas dalam dua hari terakhir telah mencapai 51 jiwa.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2401, yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah - terutama Ghouta Timur - untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.
Tiga hari kemudian, Rusia mengumumkan gencatan senjata yang menyerukan "jeda kemanusiaan" selama lima jam di daerah tersebut.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim Assad telah memperketat pengepungan sehingga pengiriman makanan dan obat-obatan menjadi hampir tidak mungkin dilakukan.
Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Suriah sebelumnya menyatakan bahwa rezim Assad telah melakukan serangkaian kejahatan perang seperti menghalangi evakuasi medis, membuat rakyat kelaparan dan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil di Ghouta Timur.
news_share_descriptionsubscription_contact
