01 Agustus 2017•Update: 02 Agustus 2017
Alpha Kamara
SENEGAL
Partai-partai oposisi mengatakan pemilu legislatif di Senegal dirusak oleh intimidasi dan kecurangan.
Hasil sementara pemilu sudah diumumkan dan menempatkan koalisi yang berkuasa Presiden Macky Sall memimpin perolehan suara.
Mantan Presiden Abdulaye Wade mengatakan kawasannya menerima surat suara dengan sangat terlambat, terutama di area Kota Suci Touba, dimana polisi harus turun tangan untuk menenangkan para pendukung mantan kepala negara.
"Orang-orang kami telah dirampok kesempatannya untuk memilih pilihan mereka. Ini demokrasi yang menyedihkan, demokrasi yang saya perjuangankan dan ini telah terbalik,” kata Wade dalam sebuah konferensi pers.
Pemungutan suara di Touba telah diperpanjang sampai jam 11 malam waktu setempat dikarenakan sempat terlambat.
TV Swasta Walfagiri menayangkan cuplikan dari Kota Diourbel, 200 kilometer dari Dakar, dimana pemilih menyerang tempat pemilihan suara (TPS) and melempatkan kertas suara ke udara sebagai protes karena keterlambatan waktu pemilihan.
Namun Perdana Menteri Mohamed Dion memuji pelaksanaan pemilu.
"Koalisi yang berkuasa memenangkan mayoritas kursi karena orang-orang Senegal memiliki kepercayaan dalam kepemimpinan Presiden Macky Sall. Ini menunjukkan mayoritas orang sudah siap untuk menerima kemajuan dan pembangunan. Saya ingin memuji komisi pemilu yang telah menyukseskan proses ini,” katanya.
Sementara itu, Awa Bah dari Open Society Foundation, mengatakan masyarakat antusias memberikan suaranya, meskipun kondisi yang tidak aman.
"Pemilu adalah perhatian utama. Masalah teknis dan keterlambatan proses pemungutan suara juga berpengaruh, "katanya.
Jika mereka (pihak oposisi) mau, mereka harus menggunakan cara hukum untuk mempertanyakan hasil pemilu tersebut, tetapi hindari keributan. ia menambahkan.