Muhammad Abdullah Azzam
28 Desember 2018•Update: 28 Desember 2018
Ömer Erdem
KHARTOUM, Sudan
Aksi demonstrasi yang memprotes mahalnya biaya hidup dan krisis ekonomi di Sudan hingga kini masih berlangsung dan telah memasuki hari ke-10.
Oposisi menyerukan demonstrasi besar setelah salat Jumat ini untuk melanjutkan aksi yang meletus karena kondisi ekonomi yang terus memburuk.
Dalam sebuah seruan para kelompok oposisi, mereka mengajak masyarakat berpartisipasi dalam gelombang demonstrasi besar ‘Intifada Jumat’ di lapangan, pasar dan daerah lainnya usai melaksanakan ibadah salat Jumat.
Ajakan oposisi itu meminta semua pihak yang berpartisipasi agar tidak membedakan partai ataupun daerah asal.
“Tujuan kami hanya menghancurkan kediktatoran,” ungkap pernyataan-pernyataan tersebut.
Terjadi kekerasan di aksi demonstrasi yang berlangsung di kota Atbara dan Pelabuhan Sudan.
Dalam beberapa hari, aksi protes terjadi di beberapa kota, termasuk Er-Rahas di utara Sudan, sebelah selatan kota Berber dan El-Gadarif dan El-Obeid, sebelah timur Sudan.
Pada Minggu, aksi protes terjadi di Omdurman, kota kembar dari ibu kota Khartoum, dan sebelah utara dan selatan negara bagian Kordofan.
Beberapa saksi mata mengatakan polisi menembakkan gas air mata kepada pendukung sepak bola yang sedang berada di pusat kota Khartoum dengan nyanyian anti Presiden Omar al-Bashir, yang menjadi presiden sejak 1989.
Otoritas Sudan telah mengumumkan keadaan darurat dan memperlakukan jam malam di beberapa provinsi karena aksi protes, dengan menuduh Israel dan kelompok pemberontak yang menjadi dalangnya dengan menciptakan kekerasan di Sudan.
Sudan-negara dengan populasi 40 juta orang- telah berjuang pulih sejak kehilangan tiga perempat minyaknya sejak Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011.