12 Juli 2017•Update: 13 Juli 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Desakan Arab Saudi terhadap Qatar untuk menutup kantor berita Al-Jazeera telah mengundang kritikan dari dunia internasional. Menurut pakar komunikasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Engkus Kuswarno, desakan tersebut tidak selalu berdampak buruk.
“Sebaliknya, [desakan ini] dapat meningkatkan reputasi Al-Jazeera sebagai kantor berita, jika perkembangan yang terjadi di wilayah Saudi dan negara sekutunya menjadi konsumsi informasi bagi masyarakat dunia melaluI Al-Jazeera,” jelasnya saat dihubungi Anadolu Agency, Senin (10/7).
“Menurut saya, kondisi kontroversial ini malah menguntungkan Al-Jazeera untuk ditunggu masyarakat dunia. Terutama tentunya berita dari negara-negara yang mendesaknya atau sudah memutuskan [untuk] menolak kehadirannya.”
Engkus mengatakan, desakan Saudi ini cenderung berdampak pada politik internasional negara-negara yang terlibat dalam krisis diplomatik Qatar namun kemungkinan tidak mempengaruhi aktivitas peliputan dan pertukaran informasi Al-Jazeera.
Terlebih dengan teknologi yang serba modern seperti saat ini, informasi bisa disebarkan dengan mudah melalui media sosial.
Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan akan adanya tindakan represif yang bisa saja menimpa para jurnalis kantor berita yang berbasis di Doha itu ketika melakukan peliputan. Namun, ia tidak menyebutkan secara detail pihak mana saja yang sekiranya dapat melakukan tindakan represif tersebut.
Sejak awal Juni 2017, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dan menuding Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris.
Di akhir Juni, keempat negara itu mengajukan 13 tuntutan kepada Qatar termasuk mendesak Qatar untuk menutup Al-Jazeera. Qatar diberi waktu lebih dari satu minggu untuk merespons. Qatar telah menunjukkan penolakannya terhadap tuntutan tersebut.