12 Juli 2017•Update: 13 Juli 2017
Ebru Sengul & Huseyin Erdogan
ISTANBUL
Paris Climate Agreement adalah permasalahan seluruh perusahaan minyak dan gas, karena itu Amerika Serikat (AS) diharapkan mau mengubah posisinya soal Paris Agreement, kata Ketua dan CEO Total Patrick Pouyanne pada Selasa.
Bicara kepada wartawan di tengah-tengah Kongres World Petroleum ke-22, di mana Anadolu Agency menjadi media komunikasi partner, Pouyanne bersikeras bahwa Paris Agreement sangat krusial bagi keberlangsungan planet Bumi.
Maka dari itu, lanjutnya lagi, permasalahan ini adalah permasalahan semua orang termasuk perusahaan minyak dan gas.
Ditandatangani oleh 195 negara pada April 2016, Paris Agreement dibuat untuk mengurangi efek perubahan iklim akibat emisi karbon dan membatasi kenaikan temperatur global sampai di bawah 2 derajat Celcius.
“Sejak akhir tahun lalu, perjanjian ini telah dsetujui dan ditandatangani oleh banyak negara. Sangat penting untuk seluruh negara tersebut untuk tetap menyetujui pemikiran itu,” kata Puyanne, berharap AS mau mengubah pendirian mereka baru-baru ini.
AS menarik diri dari Paris Agreement pada bulan Juni, dan memisahkan diri dari mayoritas negara di dunia.
“Saya rasa kita masih punya Eropa, Tiongkok, dan India, dan mereka sangat berkomitmen (terhadap perjanjian Paris). Ketiga negara ini adalah penghasil lebih dari 50 persen emisi di dunia,” beber Pouyanne.
“Bagi saya pribadi, ini merupakan strategi jangka panjang dan sangat penting,” pungkas dia.