Merve Berker
07 Maret 2022•Update: 08 Maret 2022
ANKARA
Evakuasi warga sipil di kota Mariupol yang diperangi di Ukraina "gagal," kata Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada Minggu.
“Upaya hari ini untuk mulai mengevakuasi sekitar 200.000 orang telah gagal,” kata ICRC lewat Twitter resmi mereka.
Orang-orang hidup dalam teror di kota pelabuhan tenggara dan sangat membutuhkan keselamatan.
“Upaya yang gagal menggarisbawahi tidak adanya perjanjian yang terperinci dan berfungsi antara pihak-pihak yang berkonflik,” kata ICRC.
Dikatakan bahwa para pihak perlu menyepakati rincian evakuasi warga sipil yang aman, seperti waktu, lokasi, dan rute tertentu.
Orang-orang membutuhkan air, makanan, dan tempat tinggal, dan kelompok bantuan membutuhkan jaminan keamanan untuk memberikan bantuan bagi mereka, kata ICRC.
Organisasi kemanusiaan itu juga mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengemban tugas sebagai “penjamin” pelaksanaan perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
“Sebagai perantara kemanusiaan yang netral dan tidak memihak, kami telah memfasilitasi dialog antara pihak-pihak terkait perjalanan yang aman bagi warga sipil,” kata ICRC.
Pada hari Sabtu, pejabat Ukraina mengumumkan bahwa evakuasi dari kota Mariupol dan Volnovaha dihentikan karena pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan Rusia.
PBB mengumumkan sedikitnya 364 warga sipil, termasuk 38 anak-anak dan 42 wanita, tewas dan 759 lainnya terluka di Ukraina sejak Rusia melancarkan perang di negara Eropa Timur itu pada 24 Februari.
Jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan akan lebih tinggi.
Lebih dari 1,5 juta orang telah meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga, menurut data UNHCR.
Serangan Rusia telah menimbulkan kemarahan internasional, dengan Uni Eropa, Inggris, dan AS menerapkan berbagai sanksi ekonomi terhadap Moskow.