Muhammad Nazarudin Latief
13 November 2019•Update: 14 November 2019
JAKARTA
Para ahli prihatin dengan serangan-serangan di dunia maya berbasis artificial intelligence (kecerdasan buatan/AI), malware, phishing dan ransomware yang muncul karena adopsi teknologi 5G, yang memungkinkan lalu lintas data meroket melewati perangkat yang saling berhubungan.
"Kita akan melihat lebih banyak sisi gelap AI, yang disebut Deepfake. AI dapat digunakan untuk memproduksi video palsu para selebritis, tokoh masyarakat, dan politisi.
“Ini bisa menjadi level lain dari berita palsu dan dapat menyebabkan kekacauan dan bencana," kata Prinya Hom-anake, pendiri ACIS Professional Co, penyedia layanan pelatihan cybersecurity, seperti dilansir Bangkok Post, Rabu.
Dia mengatakan eksekutif harus memahami keamanan siber adalah prioritas.
"Setiap orang atau organisasi dapat diserang, sama seperti siapa pun dapat mengalami kecelakaan mobil," kata Prinya.
Dia mengatakan eksekutif harus mengubah pola pikir mereka dan mencoba mencari cara untuk melacak dan mengatasi ancaman cyber, serta membuat cadangan data mereka dengan pendekatan yang sesuai.
"Mereka harus menyiapkan waktu, anggaran, dan orang-orang untuk tugas ini," kata Prinya.
Alih-alih mengandalkan firewall, mereka harus mengenkripsi data mereka sehingga penyerang tidak akan mendapatkan apa-apa dari serangan, kata dia.
Pembuat kebijakan harus memperhatikan kedaulatan dunia maya, pemilik data harus memiliki kemampuan untuk mengontrol data mereka sendiri, kata Prinya.
Dia mengatakan banyak data yang disimpan dan digunakan di luar negeri melalui platform layanan gratis, seperti Facebook dan Google.
"Kami memberikan privasi data kami untuk memungkinkan perusahaan menggunakan data kami untuk iklan," kata Prinya.
"Data adalah minyak baru," kata dia.
"Itulah sebabnya banyak startup unicorn menghabiskan banyak uang untuk menawarkan layanan gratis dengan imbalan data konsumen."
Evan Dumas, direktur regional untuk Asia Tenggara dari Check Point Software Technologies, mengatakan serangan malware mobile sedang meningkat.
"Paruh pertama 2019 melihat peningkatan 50 persen dalam serangan oleh malware mobile banking dari 2018," kata Dumas.
"Malware ini dapat mencuri data pembayaran, kredensial dan dana dari rekening bank korban."
Serangan phishing juga akan menjadi lebih canggih dan efektif, memikat pengguna ponsel untuk mengklik tautan web jahat, kata dia
Serangan Ransomware juga akan berlanjut.
"Tahun ini melihat eksploitasi ransomware menjadi sangat ditargetkan terhadap bisnis tertentu," kata Dumas.