Maria Elisa Hospita
26 Maret 2019•Update: 26 Maret 2019
Arife Yildiz Unal
ANKARA
Akibat serangan siber, perusahaan dan rumah tangga di seluruh dunia diprediksi mengalami kerugian senilai USD6 triliun pada 2020.
Menurut ketua Asosiasi Pengusaha Penyedia Layanan Seluler (MOBILSIAD) Turki, dunia mengalami kerugian USD3 triliun akibat serangan siber pada 2015, dan diperkirakan mencapai USD3,5 triliun tahun lalu.
Kerem Alkin mengatakan biaya keamanan siber meningkat dari sekitar USD100 miliar tahun ini menjadi USD1 triliun pada 2020.
"Pada 2020, jumlah perangkat pintar akan mencapai 200 miliar dan orang-orang akan menggunakan 300 miliar kata sandi untuk kehidupan sehari-hari," kata dia.
Sepanjang tahun 2015-2017, rata-rata satu perusahaan terkena serangan siber setiap 40 detik.
Tahun ini, serangan itu diperkirakan akan berlangsung setiap 14 detik.
"Organisasi-organisasi ilegal beralih ke serangan siber karena keuntungan yang tinggi dan biaya rendah," jelas Alkin.
Alkin menambahkan bahwa tahun lalu, organisasi ilegal meraih untung USD5 miliar dari serangan ransomware di seluruh dunia.
Ransomware adalah sebuah perangkat yang mengunci atau membatasi akses perangkat keras sebelum pengguna membayar uang tebusan kepada organisasi ilegal.
*Gokhan Ergocun turut berkontribusi dalam laporan ini