01 Mei 2018•Update: 02 Mei 2018
Said Amuri
YERUSALEM
Parlemen Israel atau Knesset pada Senin mendukung RUU yang memungkinkan perdana menteri untuk menyatakan perang dalam 'situasi ekstrem', harian Haaretz melaporkan.
Dalam RUU tersebut, Perdana menteri nantinya hanya akan membutuhkan persetujuan menteri pertahanan.
Namun laporan tersebut tidak menyebutkan berapa banyak anggota parlemen yang mendukung RUU itu.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah mengajukan permintaan lebih awal pada hari itu.
Komite gabungan Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan dan Konstitusi, Komite Hukum dan Keadilan menolak permintaannya, namun sidang Knesset menyetujui RUU itu, kata laporan tersebut.
Sebelum Knesset bersidang, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Iran terus memperluas jangkauan rudal berkekuatan nuklir.
Netanyahu menilai Iran telah melanggar kesepakatan penting untuk meredam program nuklirnya.
Dalam sebuah pernyataan, Netanyahu mengklaim dinas intelijen Israel telah memperoleh 55.000 halaman dokumen dari Iran.
Dokumen tersebut mengungkapkan bagaimana Teheran diduga kuat berbohong kepada dunia setelah menandatangani kesepakatan nuklir.
"Iran berbohong bahwa mereka tidak pernah memiliki program senjata nuklir, 100.000 file rahasia membuktikan bahwa mereka berbohong," kata dia, Senin.
Pernyataan Netanyahu menyusul pertemuan akhir pekan antara Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS yang baru saja dilantik, Mike Pompeo.
Presiden AS Donald Trump berencana mengumumkan apakah akan menarik diri dari kesepakatan pada 12 Mei.
*Fatih Hafız Mehmet berkontribusi untuk berita ini dari Ankara