Roy Ramos
07 November 2017•Update: 07 November 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Partai Komunis Filipina (CPP) pada Senin mendorong warga Filipina melakukan protes besar-besaran di kota-kota besar dan memerintahkan pasukannya agar meluncurkan serangan taktis terhadap militer Filipina di pedesaan, sebelum digelarnya Konferensi ASEAN di Manila pekan depan.
"CPP memanggil agar semua warga Asia dan dunia bersatu melawan kolusi persekongkolan seperti ASEAN, forum Kooperasi Ekonomi Asia-Pasifik dan instrumen imperialis lainnya yang yang menekan dan memanfaatkan warga kaum buruh," bunyi statemen yang dirilis situs resmi CPP, Philippine Revolution Web Central.
Para pemimpin 10 negara-negara ASEAN yaitu Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, serta negara-negara mitra yaitu Australia, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia dan AS akan bertemu pada 10-14 November untuk merundingkan sejumlah isu, termasuk konflik Laut Cina Selatan dan perkembangan ekonomi regional.
CPP juga mengkritik Washington yang menurut mereka "mencoba mematahkan hambatan ekonomi untuk menguntungkan monopoli AS".
Mereka juga menunjukkan beberapa hal yang dilihat sebagai ancaman seperti ajakan perang AS terhadap Pyongyang sebagai pembenaran bagi AS memperkuat pangkalan militer mereka di Korea Selatan dan sekitar Laut Cina Selatan.
Pemberontak komunis itu juga mengecam kunjungan Trump ke Filipina, yang akan "memperkuat hubungan dalang dan wayang" antara Washington dan Manila di bawah rezim Presiden Rodrigo Duterte.
Ketika Duterte memenangkan kursi kepresidenan, dia membuka proses perdamaian dengan komunis dalam upaya mengakhiri konflik lama itu, namun perundingan perdamaian menghadapi tantangan dengan adanya pelanggaran kesepakatan - seperti serangan pemberontak terhadap konvoi kepresidenan Juli lalu.
40 pertemuan negosiasi perdamaian dipimpin oleh lima presiden Filipina sejauh ini gagal karena berbagai alasan.
Juli lalu, partai itu mengerahkan pasukan bersenjata mereka (NPA) untuk meluncurkan serangan di seluruh Filipina ketika Duterte memperpanjang darurat militer di Mindanao menyusul perang Marawi.
Aktivitas NPA sejak 1969 telah menewaskan puluhan ribu orang.