Qais Abu Samra
15 Desember 2017•Update: 16 Desember 2017
Qais Abu Samra
HEBRON, Palestina
"Seorang tentara memborgol dan menggiring saya ke kantor polisi Al-Debwaya," tutur Mohamed al-Tawil, pemuda Palestina dengan keterbelakangan mental, kepada Anadolu Agency, Kamis.
Al-Tawil mengaku ditahan selama satu jam di kawasan bisnis di pusat Hebron, Minggu.
"Setelah memukuli saya, mereka meninggalkan saya di jalanan," ungkapnya.
Meskipun telah disiksa, al-Tawil terus berkeliaran di distrik Kota Tua Hebron, di mana puluhan tentara Israel berjaga-jaga di pos pemeriksaan untuk menjaga permukiman Yahudi.
Saat ini, sekitar 800 warga Israel tinggal di Kota Tua Hebron, yang 20 persen wilayahnya dikuasai Israel, sementara 80 persen lainnya dikuasai otoritas Palestina.
Ayah al-Tewil, Khedir, mengungkapkan kepada Anadolu Agency bahwa putranya - meski berketerbelakangan mental - memang sering berkeliaran di wilayah tersebut.
"Ia dikenal oleh warga Al-Khalil [Hebron] dan sebagian besar pasukan Israel di Kota Tua. Meskipun mereka tahu kondisi al-Tawil, mereka tetap menahan bahkan memukuli dia," kata Khedir.
Khedir pun meminta campur tangan dari kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk menghentikan perlakuan sewenang-wenang tentara Israel terhadap penduduk Palestina di wilayah tersebut - khususnya terhadap warga yang berkebutuhan khusus.
Foto penangkapan al-Tawil yang beredar luas di media sosial mengundang kecaman dari seluruh dunia.
Insiden ini terjadi di tengah memanasnya hubungan Israel-Palestina menyusul keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan lalu yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Yerusalem masih menjadi poros konflik kawasan Timur Tengah, karena orang-orang Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negaranya di masa yang akan datang.