Said Ibicioglu
16 Juni 2018•Update: 17 Juni 2018
Said Ibicioglu
MAARIB, Yaman
Pasukan pemerintah telah merebut kembali sebuah bandara internasional di provinsi Al-Hudeidah, sebelah barat Yaman, ungkap sumber militer melalui media sosial.
Dalam sebuah cuitan pada Sabtu, kantor media militer Yaman mengatakan pasukan pemerintah -yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi- secara sukses telah “membebaskan” bandara dari pemberontak Syiah Houthi.
Unit pasukan Yaman, sedang dalam proses untuk penyisiran area tersebut. Juru bicara Houthi belum memberikan komentar atas klaim pasukan Yaman tersebut.
Pada Rabu, pasukan Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi meluncurkan sebuah operasi besar untuk merebut kembali Al-Hudeidah -bersama dengan pelabuhannya yang strategis- dari pemberontak Houthi, yang telah mendudukinya pada akhir 2014.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional (dengan basis di kota pelabuhan Aden) dan sekutunya, koalisi pimpinan Arab Saudi menuduh kelompok Houthi menggunakan pelabuhan untuk memasuki senjata-senjata dari Iran.
Minggu lalu, PBB memperingatkan serangan militer di Al-Hudeidah oleh koalisi pimpinan Arab Saudi dapat mempengaruhi 250ribu orang.
“Lembaga-lembaga kemanusiaan di Yaman khawatir atas dampak dari serangan militer pada Al-Hudeidah,” Lisa Grande, koordinator bantuan kemanusiaan PBB di Yaman, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Jumat.
Yaman terus dilanda kekerasan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sanaa.
Konflik yang terjadi di Yaman meningkat pada 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Suni-Arab -yang menuduh Houthi sebagai proxi Syiah Iran- meluncurkan serangan udara secara besar-besaran di Yaman untuk memukul mundur pemberontak Houthi.
Tahun selanjutnya, pembicaraan damai yang disponsori PBB di Kuwait gagal untuk mengakhiri perang.
Konflik yang sedang berlangsung telah menghancurkan infrastruktur negara, termasuk air dan sistem sanitasi, mendorong PBB menggambarkan situasi tersebut sebagai “salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern.”